Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Kemenperin Bidik Investasi Rp130 T dari Tiga Industri di 2019


PT.Bestprofit -Kementerian Perindustrian membidik investasi Rp130 triliun dari industri kimia, farmasi dan tekstil di 2019 ini. Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan optimis target tersebut bisa dicapai.

Menurutnya, sudah ada beberapa investor yang tertarik untuk ekspansi di industri hulu kimia. "Misal dari Korea Selatan, saat ini masih dalam tahap pembicaraan," katanya seperti dikutip dari website Kementerian Perindustrian, Senin (14/1).

Achmad mengatakan pembicaraan tersebut merupakan tindak lanjut dari investasi yang sudah masuk belakangan kemarin. Beberapa waktu lalu, sejumlah investasi di industri kimia telah masuk.

Pilihan redaksi
www.ptbestprofit.com
www.ptbestprofitfutures.com
www.pt-bestprofit.com

Investasi tersebut, salah satunya dalam bentuk pembangunan industri petrokimia untuk memproduksi naphta cracker di Cilegon. Investasi tersebut berasal dari komitmen PT Lotte Chemical Indonesia yang menggelontorkan dana sebesar US$3,5 miliar.

Investasi tersebut diharapkan bisa menghasilkan naphta cracker sebanyak 2 juta ton per tahun.  Selain itu, investasi juga datang dari PT Chandra Asri Petrochemical.

Mereka menyuntik dana hingga US$5,4 miliar, yang di antaranya digunakan untuk memproduksi naphta cracker sebanyak 2,5 juta ton per tahun. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini