18 Saham Dikeluarkan, Ini Daftar Saham BEI yang Bertahan Di Indeks MSCI

  Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan 18 saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari konstituen indeks. Lalu, saham apa saja yang masih menjadi penghuni indeks MSCI? MSCI resmi mengumumkan hasil index review periode Mei 2026 pada Rabu (13/5). Perubahan hasil review MSCI ini akan berlaku efektif mulai 1 Juni 2026 setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026. Dalam rebalancing terbaru tersebut, MSCI mengeluarkan sejumlah saham dari MSCI Global Standard Indexes maupun MSCI Small Cap Indexes. Meski demikian, masih banyak saham Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tetap bertahan sebagai konstituen indeks MSCI. Keberadaan saham dalam indeks MSCI biasanya menjadi perhatian investor karena berpotensi memengaruhi aliran dana asing, khususnya dari fund manager global yang menggunakan MSCI sebagai acuan investasi. Berikut sejumlah saham BEI yang masih menjadi anggota MSCI Global Standard Indexes setelah review Mei 2026: Sektor Perbankan - PT Bank Central Asi...

Data Ekonomi China Bikin Saham Bursa Asia Tergelincir


PT.Bestprofit - Indeks saham bursa Asia berbalik merosot pada perdagangan hari pertama 2019, karena data ekonomi China yang mengecewakan, membuat sentimen ekonomi redup.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang tergelincir 1,6 persen, menunjukkan survei aktivitas manufaktur sektor swasta China untuk pertama kalinya dalam 19 bulan.

Indeks Manajer Pembelian Manufaktur Caixin/Markit (PMI) untuk Desember turun menjadi 49,7 dari level indeks bulan sebelumnya 50,2, dan diikuti survei yang buruk terkait output sektor manufaktur.

Pilihan redaksi
www.ptbestprofit.com
www.ptbestprofitfutures.com
www.pt-bestprofit.com

"Hal yang lebih menarik adalah bahwa 'pesanan baru' pada PMI turun dari ekspansi pada November menjadi kontraksi pada Desember. Ini menegaskan pandangan bahwa ekonomi lemah dan stimulus perlu tiba dengan cepat," kata analis di ING seperti dikutip dari Reuters, Rabu (2/1). 
Indeks blue chip Shanghai merosot cepat 1,2 persen dan Korea Selatan turun 1,5 persen, sedangkan Nikkei Jepang tak bergerak karena masih ditutup untuk liburan.

E-Mini futures untuk S&P 500 melesu 0,8 persen, sementara FTSE futures turun 0,6 persen. Spreadbetters juga menunjuk kerugian pada bursa Eropa utama lain pada pembukaan hari
pertama tahun 2019.

Dolar Australia, yang sering digunakan sebagai pengganti terhadap sentimen China, melemah 0,7 persen ke level terendah sejak Februari 2016 di level $ 0,70015.

Pelemahan nilai tukar dolar AS dan kondisi suku bunga AS yang cenderung stabil membawa keuntungan bagi emas. Logam mulia berada di level US$ 1.283 per ounce menjadi mendekati puncak selama enam bulan.
Harga minyak merosot tajam sepanjang tahun lalu. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot hampir 25 persen, sementara harga minyak Brent melemah 19,5 persen.

Gubernur Federal Reserve Jerome Powell akan memiliki kesempatan untuk mengungkapkan prospek ekonomi saat ia berpartisipasi dalam diskusi bersama mantan Gubernur The Fed Janet Yellen dan Ben Bernanke pada Jumat (4/1) mendatang.

Selain itu, survei manufaktur AS berpotensi dirilis pada Kamis (3/1), diikuti oleh laporan pembayaran gaji sehari setelahnya.

Pasar utang AS juga mengasumsikan The Fed telah selesai beraksi. Hasilnya, imbal hasil (yield) obligasi bertenor 2 tahun jatuh ke level 2,49 persen, dari puncak 2,97 persen pada November.
Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun juga merosot ke level terendah sejak Februari lalu di level 2,69 persen, dari semula 2,71 persen.

"Pertumbuhan global membuat potensi aset berisiko berakhir. Kurva imbal hasil tak terelakkan, saat ini terpengaruh oleh normalisasi kebijakan AS lebih lanjut," tulis tim Treasury di OCBC Bank dalam sebuah catatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)