18 Saham Dikeluarkan, Ini Daftar Saham BEI yang Bertahan Di Indeks MSCI

  Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan 18 saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari konstituen indeks. Lalu, saham apa saja yang masih menjadi penghuni indeks MSCI? MSCI resmi mengumumkan hasil index review periode Mei 2026 pada Rabu (13/5). Perubahan hasil review MSCI ini akan berlaku efektif mulai 1 Juni 2026 setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026. Dalam rebalancing terbaru tersebut, MSCI mengeluarkan sejumlah saham dari MSCI Global Standard Indexes maupun MSCI Small Cap Indexes. Meski demikian, masih banyak saham Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tetap bertahan sebagai konstituen indeks MSCI. Keberadaan saham dalam indeks MSCI biasanya menjadi perhatian investor karena berpotensi memengaruhi aliran dana asing, khususnya dari fund manager global yang menggunakan MSCI sebagai acuan investasi. Berikut sejumlah saham BEI yang masih menjadi anggota MSCI Global Standard Indexes setelah review Mei 2026: Sektor Perbankan - PT Bank Central Asi...

Lifting Gas Blok Mahakam Cuma 75 Persen dari Target APBN 2018


PT.Bestprofit - Setahun setelah diambilalih PT Pertamina (Persero), lifting gas bumi Blok Minyak dan Gas Bumi (Migas) Mahakam hanya mencapai 832 mmscfd atau berkisar 75 persen dari target APBN 2018 yang dipatok 1.110 mmscfd. Capaian tersebut juga turun 35,3 persen dari realiasi tahun 2017 yang mencapai 1.286 mmscfd.

Sebelumnya, Pertamina melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) mendapat mandat untuk mengelola Blok Mahakam per 1 Januari 2018 pasca ditinggal Total E&P Indonesie.

"Tetapi, realisasi produksi Mahakam oleh Pertamina masih lebih tinggi dari prediksi penurunan produksi yang dibuat Total tahun lalu," ujar Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Senin (7/1).

Secara terpisah, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengungkapkan mengungkapkan Blok Mahakam telah berada pada fase penurunan alami. Akibatnya, produksinya menurun dari tahun ke tahun.

Selain itu, tidak tercapainya target juga tak lepas dari masa transisi alih kelola Blok Mahakam dari Total ke PHM juga baru terealisasi pada 2017 sehingga dampaknya pada produksi belum optimal. Investasi juga belum banyak dilakukan pada 2018.

"Pada 2019 ini pengeboran mulai banyak dan baru mulai berdampak (pada produksi) pada 2020," ujar Dwi.
Melihat pengalaman transisi Blok Mahakam, Dwi berharap transisi alih kelola Blok Rokan dari PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) ke Pertamina bisa berjalan lebih baik sehingga tidak berdampak pada produksi. Sebagai catatan, Pertamina akan mengambil alih kelola Blok Rokan pada 2021, saat kontrak CPI pada blok tersebut habis.

Secara keseluruhan, rata-rata lifting migas sepanjang 2018 mencapai 1,917 juta barel setara minyak per hari (barrels oil equivalent per day/boepd) atau setara dengan 96 persen dari target APBN 2018 yang dipatok 2.000 mboepd. Khusus untuk lifting gas bumi, realisasinya tercatat 1,139 juta boepd atau 94,92 persen dari target 1,2 juta boepd. Sementara 778 ribu bpd sisanya merupakan realisasi lifting minyak bumi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)