Harga Minyak Rebound, Kebijakan AS ke Venezuela Jadi Kunci

  Harga minyak rebound pada perdagangan Kamis (8/1/2026) pagi, setelah anjlok kemarin. Pukul 07.20 WIB, harga minyak West Texas Intermediate ( WTI ) untuk pengiriman Februari 2026 di New York Mercantile Exchange berada di level US$ 56,32 per barel, naik 0,59% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 55,99 per barel. Mengutip Bloomberg , harga minyak naik karena para pedagang mencerna lebih banyak langkah dari AS terkait Venezuela , termasuk rencana untuk mengontrol penjualan minyak di masa mendatang tanpa batas waktu, dan penyitaan dua kapal tanker yang dikenai sanksi. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan, awalnya AS akan menawarkan minyak mentah yang disimpan, dan kemudian menjual pasokan Venezuela. Departemen Energi mengatakan minyak sedang dipasarkan. Perusahaan minyak negara Venezuela dalam sebuah pernyataan mengungkapkan bahwa mereka sedang bernegosiasi dengan Washington mengenai penjualan minyak mentah melalui kerangka kerja yang mirip dengan kesepakatan den...

Saratoga (SRTG) Bukukan Kerugian Investasi Rp 4,3 Triliun per Kuartal III 2025

 

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) mengalami penurunan kinerja sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025.

Melansir laporan keuangan, SRTG mencatatkan kerugian neto atas investasi pada saham dan efek lainnya sebesar Rp 4,3 triliun per September 2025.

Ini berbanding terbalik dari keuntungan neto atas investasi pada saham dan efek lainnya Rp 5,02 triliun per September 2024.

Pos penghasilan dividen dan bunga sebesar Rp 1,40 triliun di periode ini, turun 15,33% secara tahunan alias year on year (YoY) dari Rp 1,66 triliun.

Penghasilan lainnya tercatat Rp 10,13 miliar per September 2025, turun dari Rp 13,45 miliar per periode sama tahun lalu.

Kerugian neto atas instrumen keuangan derivatif lainnya sebesar Rp 236 juta per kuartal III 2025. Pada periode sama tahun lalu, pos ini kosong.

Alhasil, rugi periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik perusahaan alias rugi bersih sebesar Rp 2,43 triliun sepanjang Januari-September 2025. Ini berbanding terbalik dari laba bersih Rp 5,21 triliun per September 2024.

Dengan kinerja tersebut, SRTG mengantongi rugi per saham dasar Rp 179 per kuartal III 2025, berbanding terbalik dari laba per saham dasar Rp 385 pada periode sama tahun 2024.

Per 30 September 2025, SRTG punya jumlah aset Rp 52,84 triliun. Ini turun dari Rp 57,84 triliun per 31 Desember 2024.

Investasi pada saham SRTG sebesar Rp 48,21 triliun, turun dari Rp 51,91 triliun per kuartal III 2024. Investasi pada efek lainnya juga turun dari Rp 3,63 triliun menjadi Rp 3,57 triliun per kuartal III 2025.

Jumlah nilai wajar investasi di saham blue chip sebesar Rp 41,48 triliun, termasuk Rp 15 triliun di PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan Rp 10,05 triliun di saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Sementara, jumlah nilai wajar investasi di perusahaan berkembang Rp 6,67 triliun.

Jumlah liabilitas perseroan sebesar Rp 3,68 triliun di akhir September 2025, turun dari Rp 6,06 triliun di akhir Desember 2024. Sementara, jumlah ekuitas tercatat Rp 49,16 triliun di kuartal III 2025, turun dari Rp 51,77 triliun di akhir tahun 2024.

SRTG memiliki kas dan setara kas akhir periode sebesar Rp 904,79 miliar di akhir September 2025, naik dari Rp 877,21 miliar di periode sama tahun lalu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Cermati Rekomendasi Saham Pilihan Analis untuk Senin (3/3) Usai IHSG Terjun ke 6.270