Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Saratoga (SRTG) Bukukan Kerugian Investasi Rp 4,3 Triliun per Kuartal III 2025

 

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) mengalami penurunan kinerja sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025.

Melansir laporan keuangan, SRTG mencatatkan kerugian neto atas investasi pada saham dan efek lainnya sebesar Rp 4,3 triliun per September 2025.

Ini berbanding terbalik dari keuntungan neto atas investasi pada saham dan efek lainnya Rp 5,02 triliun per September 2024.

Pos penghasilan dividen dan bunga sebesar Rp 1,40 triliun di periode ini, turun 15,33% secara tahunan alias year on year (YoY) dari Rp 1,66 triliun.

Penghasilan lainnya tercatat Rp 10,13 miliar per September 2025, turun dari Rp 13,45 miliar per periode sama tahun lalu.

Kerugian neto atas instrumen keuangan derivatif lainnya sebesar Rp 236 juta per kuartal III 2025. Pada periode sama tahun lalu, pos ini kosong.

Alhasil, rugi periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik perusahaan alias rugi bersih sebesar Rp 2,43 triliun sepanjang Januari-September 2025. Ini berbanding terbalik dari laba bersih Rp 5,21 triliun per September 2024.

Dengan kinerja tersebut, SRTG mengantongi rugi per saham dasar Rp 179 per kuartal III 2025, berbanding terbalik dari laba per saham dasar Rp 385 pada periode sama tahun 2024.

Per 30 September 2025, SRTG punya jumlah aset Rp 52,84 triliun. Ini turun dari Rp 57,84 triliun per 31 Desember 2024.

Investasi pada saham SRTG sebesar Rp 48,21 triliun, turun dari Rp 51,91 triliun per kuartal III 2024. Investasi pada efek lainnya juga turun dari Rp 3,63 triliun menjadi Rp 3,57 triliun per kuartal III 2025.

Jumlah nilai wajar investasi di saham blue chip sebesar Rp 41,48 triliun, termasuk Rp 15 triliun di PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan Rp 10,05 triliun di saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Sementara, jumlah nilai wajar investasi di perusahaan berkembang Rp 6,67 triliun.

Jumlah liabilitas perseroan sebesar Rp 3,68 triliun di akhir September 2025, turun dari Rp 6,06 triliun di akhir Desember 2024. Sementara, jumlah ekuitas tercatat Rp 49,16 triliun di kuartal III 2025, turun dari Rp 51,77 triliun di akhir tahun 2024.

SRTG memiliki kas dan setara kas akhir periode sebesar Rp 904,79 miliar di akhir September 2025, naik dari Rp 877,21 miliar di periode sama tahun lalu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini

Kasus TaniHub bayangi iklim investasi start-up di Indonesia