Harga Minyak Rebound, Kebijakan AS ke Venezuela Jadi Kunci

  Harga minyak rebound pada perdagangan Kamis (8/1/2026) pagi, setelah anjlok kemarin. Pukul 07.20 WIB, harga minyak West Texas Intermediate ( WTI ) untuk pengiriman Februari 2026 di New York Mercantile Exchange berada di level US$ 56,32 per barel, naik 0,59% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 55,99 per barel. Mengutip Bloomberg , harga minyak naik karena para pedagang mencerna lebih banyak langkah dari AS terkait Venezuela , termasuk rencana untuk mengontrol penjualan minyak di masa mendatang tanpa batas waktu, dan penyitaan dua kapal tanker yang dikenai sanksi. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan, awalnya AS akan menawarkan minyak mentah yang disimpan, dan kemudian menjual pasokan Venezuela. Departemen Energi mengatakan minyak sedang dipasarkan. Perusahaan minyak negara Venezuela dalam sebuah pernyataan mengungkapkan bahwa mereka sedang bernegosiasi dengan Washington mengenai penjualan minyak mentah melalui kerangka kerja yang mirip dengan kesepakatan den...

Laba Bersih Adaro Andalan Indonesia (AADI) Susut 45,35% Hingga Kuartal III-2025

 

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) membukukan kinerja keuangan yang kurang mengesankan hingga akhir kuartal III-2025.

Mengacu keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan usaha AADI tercatat sebesar US$ 3,61 miliar per kuartal III-2025. Pendapatan AADI menyusut 10,86% year on year (yoy) dibandingkan pendapatan usaha AADI per kuartal III-2024 sebesar US$ 4,05 miliar.

Jika dirinci, pendapatan usaha AADI dari segmen pertambangan dan perdagangan batubara mengalami penurunan 10,51% yoy dari US$ 3,90 miliar per kuartal III-2024 menjadi US$ 3,45 miliar per kuartal III-2025.

Di sisi lain, pendapatan dari segmen usaha logistik mampu tumbuh 0,21% yoy dari US$ 423,28 juta per kuartal III-2024 menjadi US$ 424,15 juta per kuartal III-2025.

Pendapatan dari segmen lain-lain juga naik 54,38% yoy dari US$ 38,84 juta per kuartal III-2024 menjadi US$ 59,96 juta per kuartal III-2025. ADMR turut mencatatkan eliminasi sebesar US$ 323,267 juta per kuartal III-2025.

AADI mencatatkan beban pokok pendapatan sebesar US$ 2,67 miliar per kuartal III-2025 atau turun 8,87% yoy dibandingkan beban pokok pendapatan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu US$ 2,93 miliar.

Dengan demikian, laba bruto AADI mencapai US$ 943,26 juta hingga kuartal III-2025 atau terkoreksi 15,76% yoy dibandingkan laba bruto perusahaan pada periode sebelumnya yakni US$ 1,12 miliar.

Laba usaha AADI juga merosot 34,84% yoy menjadi US$ 810,55 juta per kuartal III-2025, dari sebelumnya US$ 1,24 miliar.

Penurunan ini dipengaruhi oleh pendapatan lain-lain ADMR yang menyusut 88,01% yoy menjadi US$ 39,12 juta per kuartal III-2025, dari sebelumnya US$ 326,26 juta.

Padahal, beban usaha ADMR telah berkurang 15,03% yoy menjadi US$ 171,81 juta per kuartal III-2025, dari sebelumnya US$ 202,19 juta.

Hingga akhir kuartal III-2025, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk AADI tercatat sebesar US$ 587,32 juta. Laba AADI merosot 45,35% yoy dibandingkan laba bersih perusahaan per kuartal III-2024 sebesar US$ 1,07 miliar.

AADI memiliki total aset sebanyak US$ 6,11 miliar per kuartal III-2025 atau meningkat 2% dibandingkan total aset perusahaan pada akhir 2024 yakni sebesar US$ 5,99 miliar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Cermati Rekomendasi Saham Pilihan Analis untuk Senin (3/3) Usai IHSG Terjun ke 6.270