Prospek Saham Rumah Sakit di 2026: Cek Pendorong Kinerja & Tantangan Tersembunyi

  Prospek emiten sektor rumah sakit pada tahun 2026 diperkirakan tetap cerah seiring meningkatnya permintaan layanan kesehatan dan ekspansi jaringan rumah sakit yang masih berlanjut. Head Research Korea Invesment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, peningkatan volume pasien, baik dari segmen BPJS maupun pasien privat, akan menjadi pendorong utama kinerja sektor ini.  Selain itu, ekspansi rumah sakit turut meningkatkan tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR). Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi memberikan sentimen positif terhadap pergerakan saham emiten rumah sakit seperti PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ). “Peningkatan volume pasien serta ekspansi akan mengerek tingkat keterisian tempat tidur (BOR). Hal ini langsung mendongkrak margin profitabilitas dan laba,” ujar Wafi kepad...

Resmi Masuk MSCI, BREN dan BRMS Siap Jadi Incaran Investor Asing

 

Masuknya saham Tanah Air ke indeks global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI) mampu menggaet investor asing untuk mengoleksi saham terkait. 

Ini tercermin dari saham-saham yang masuk dalam rebalancing MSCI periode Agustus 2025. Misalnya, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang masuk ke MSCI Global Standard Index. 

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), kepemilikan investor asing atas saham CUAN mencapai 13,92 miliar. Namun pada pengumuman rebalancing di Agustus 2025 investor asing atas saham CUAN meningkat. 

Pada pengumuman rebalancing di Agustus 2025, investor asing yang memiliki saham CUAN mencapai 14,52 miliar ada kenaikan sekitar 4,24% dibanding bulan sebelumnya.

Kenaikan juga masih berlanjut di September 2025 atau satu bulan setelah hasil rebalancing efektif. Pada September 2025, kepemilikan investor asing di CUAN naik 1,21% secara bulanan menjadi 14,69 miliar. 

Hal serupa juga terjadi pada DSSA. Di mana, pada Agustus 2025 tercatat ada 1,53 miliar investor asing yang mendekap saham Grup Sinarmas ini. Angka tersebut meningkat 0,07% secara bulanan dari 1,53 juta. 

Sebaliknya, investor asing cenderung mengurangi eksposur atas saham-saham yang terdepak dari MSCI Global Standard Index. Ini terjadi pada saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO). 

Adapun rebalancing Agustus 2025, MSCI memutuskan untuk mengeluarkan ADRO dari indeks utama MSCI Global Standard Index dah dipindahkan ke kategori MSCI Small Cap Index. 

Kepemilikan asing di saham ADRO pada Agustus 2025 mencapai 4,06 miliar atau turun 12,16% secara bulanan dari posisi Juli 2025 sebesar 4,63 miliar investor. Porsi ini terus menurun sampai September 2025 yang tersisa 14,12 juta investor. 

Pola serupa sudah mulai tercermin pada saham yang masuk dalam rebalancing November 2025. Di mana, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) resmi masuk MSCI Global Standard Index.

Kedua saham itu sudah digadang-gadang bakal masuk ke indeks global ini. Alhasil, kepemilikan investor asing atas saham BREN dan BRMS dalam dua bulan terakhir sebelum pengumuman meningkat signifikan. 

Pada September 2025, investor asing yang mendekap saham BREN mencapai 46,24 miliar. Angka ini melesat tajam hingga 4.717,25% secara bulanan dari posisi Agustus 2025 yang hanya 959,93 miliar. 

Kenaikan kepemilikan investor asing atas saham milik taipan Prajogo Pangestu itu masih meningkat walaupun tidak signifikan. Pada Oktober 2025, kepemilikan investor asing di BREN naik 0,08% menjadi 46,28 miliar. 

Kepemilikan investor asing di saham BRMS juga naik walaupun tidak setinggi BREN. Pada September 2025, kepemilikan investor asing di BRMS mencapai 75,85 miliar atau naik 4,46% secara bulanan dari 72,61 miliar. 

Saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) yang terdepak dari indeks utama ke MSCI Small Cap Index juga mulai ditinggalkan investor asing. Posisi kepemilikan investor asing di KLBF pada September 2025 mencapai 10,62 miliar atau turun 2,90%. 

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata memproyeksikan, masuknya BREN dan BRMS ke dalam MSCI Global Standard Index bisa menarik aliran dana pasif asing masing-masing bisa mencapai US$ 100 juta–US$ 200 juta.

Menurutnya, arus modal ini memperkuat keyakinan bahwa foreign appetite masih akan bertahap hingga akhir tahun di tengah harapan pemangkasan suku bunga gloval pada 2026 dan stabilitas makro Indonesia. 

Liza menyebut feek domino dari rebalancing MSCI ini tidak hanya soal dana, tetapi juga ownership shift. Apalagi, BREN menjadi saham terbesar yang masuk ke dalam MSCI sejajaran dengan Zijin Gold dan GF Securities asal China. 

“Saham ini berpotensi menarik tambahan kepemilikan asing mendekati atau bahkan di atas 5% dalam jangka pendek karena reposisi portofolio dari global passive funds,” jelas Liza kepada Kontan, Kamis (6/11/2025). 

Dia memproyeksikan BRMS akan mengalami hal serupa meski dalam skala lebih kecil. Sedangkan, saham-saham yang dikeluarkan seperti ICBP dan KLBF berpotensi mengalami pengurangan kepemilikan asing. 

“ICBP dan KLBF berpotensi mengalami pengurangan kepemilikan asing akibat aliran keluar atau outflow yang masing-masing diperkirakan bisa mencapai sekitar US$ 60 juta–US$ 70 juta,” kata Liza. 

Liza memproyeksikan selain dua nama besar itu, saham-saham small cap baru seperti ENRG, WIFI, DSNG, MSIN, dan RAJA juga berpotensi mengalami kenaikan foreign float karena tambahan alokasi dari dana pasif. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025