Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Rupiah Berpeluang Kembali Melemah, Simak Sentimen untuk Hari Ini (4/11)

 

Nilai tukar rupiah di pasar spot diproyeksi masih melemah pada perdagangan hari ini (4/11/2025). Kombinasi sentimen eksternal dan internal jadi penopang pergerakan rupiah untuk hari ini.

Sekedar mengingatkan, rupiah ditutup melemah 0,27% ke Rp 16.676 per dolar Amerika Serikat (AS).

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, terdapat sentimen eksternal dan internal yang dapat menggerakkan mata uang Garuda.

Pasalnya, dolar AS masih terus menguat oleh kesepakatan baru antara AS-China.

Sementara dari domestik, rupiah masih berpeluang tertekan oleh prospek kebijakan longgar BI dan pemerintah.

"Apabila data aktivitas manufaktur AS naik, dolar AS masih berpotensi kembali menguat," ujar Lukman.

Oleh karena itu, Lukman memprediksi rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.600-Rp 16.750 per dolar AS pada Selasa (4/11/2025).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini

Kasus TaniHub bayangi iklim investasi start-up di Indonesia