Prospek Saham Rumah Sakit di 2026: Cek Pendorong Kinerja & Tantangan Tersembunyi

  Prospek emiten sektor rumah sakit pada tahun 2026 diperkirakan tetap cerah seiring meningkatnya permintaan layanan kesehatan dan ekspansi jaringan rumah sakit yang masih berlanjut. Head Research Korea Invesment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, peningkatan volume pasien, baik dari segmen BPJS maupun pasien privat, akan menjadi pendorong utama kinerja sektor ini.  Selain itu, ekspansi rumah sakit turut meningkatkan tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR). Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi memberikan sentimen positif terhadap pergerakan saham emiten rumah sakit seperti PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ). “Peningkatan volume pasien serta ekspansi akan mengerek tingkat keterisian tempat tidur (BOR). Hal ini langsung mendongkrak margin profitabilitas dan laba,” ujar Wafi kepad...

Kinerja Emiten Properti Tumbuh pada Kuartal III 2025, Cermati Rekomendasi Analis

 

Kinerja emiten properti nasional masih menunjukkan ketangguhan di tengah perlambatan pasar. Hingga akhir kuartal III 2025, sejumlah pengembang besar berhasil mencatatkan pertumbuhan laba, meski sebagian lainnya masih harus menghadapi tekanan pendapatan.

PT Ciputra Development Tbk (CTRA) mencatatkan laba bersih Rp 1,62 triliun pada kuartal III 2025, naik 26,99% dibandingkan periode sama tahun lalu. Penjualan CTRA juga tumbuh 17,91% menjadi Rp 8,39 triliun. 

Capaian serupa juga diraih PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) yang membukukan laba bersih Rp 1,72 triliun, naik 3,85% secara tahunan. 

Sementara itu, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) membukukan pendapatan Rp 3,09 triliun atau naik 48% YoY, dengan laba yang melesat 62% menjadi Rp 791,3 miliar.

Namun, tidak semua emiten menikmati kinerja positif. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mencatatkan penurunan pendapatan usaha 12,95% YoY menjadi Rp 8,76 triliun, dengan laba bersih yang terkoreksi hampir separuh ke Rp 1,36 triliun. 

PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) juga mengalami pelemahan pendapatan menjadi Rp 1,13 triliun dari Rp 1,30 triliun pada tahun lalu, dengan laba bersih turun ke Rp 232,45 miliar.

Menariknya, tren penjualan prapenjualan atau marketing sales justru menunjukkan arah sebaliknya. CTRA mencatat marketing sales Rp 7,6 triliun hingga September 2025, turun 12% YoY, dan menurunkan target tahunannya menjadi Rp 10 triliun.

PWON juga mengalami penurunan marketing sales 20% YoY menjadi Rp 903 miliar. PANI menurunkan targetnya dari Rp 5,3 triliun menjadi Rp 4,3 triliun, dengan realisasi Rp 1,98 triliun per kuartal III.

Sebaliknya, BSDE dan MTLA menunjukkan perbaikan tipis. BSDE mencatat marketing sales Rp 7,10 triliun, naik 4% YoY, sementara MTLA tumbuh 4% menjadi Rp 1,34 triliun.

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan bahwa perbedaan arah antara laba dan marketing sales ini mencerminkan fase proyek masing-masing emiten. 

CTRA, PANI, dan PWON saat ini tengah menikmati hasil dari proyek yang memasuki tahap serah terima atau handover sesuai PSAK 72, sehingga laba mereka naik signifikan.

“Ketiganya sedang berada dalam fase harvesting, di mana laba yang diakui merupakan hasil dari penjualan beberapa kuartal sebelumnya,” jelas Abida kepada Kontan, Rabu (5/11).

PWON tetap stabil berkat kontribusi kuat dari segmen pendapatan berulang seperti pusat perbelanjaan, sewa kantor, dan hotel. Sementara lonjakan laba PANI dipicu monetisasi proyek besar seperti PIK 2 dan konsolidasi pendapatan anak usaha.

Di sisi lain, BSDE dan MTLA sedang berada dalam fase pra-serah terima, sehingga meski marketing sales meningkat, pengakuan pendapatannya masih tertunda. “Banyak penjualan kuat tahun ini masih tercatat sebagai deferred revenue, sehingga belum terefleksi dalam laba bersih,” tambah Abida.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025