Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Jelang Pemilu AS, saham dan obligasi tetap menarik

PT Bestprofit Futures Pekanbaru - JAKARTA. Volatilitas tinggi bursa saham AS menjelang Pemilu Presiden AS pada 8 November 2016 akan berdampak pula pada pergerakan IHSG sepekan ke depan. Ini disebabkan pasar mencari aset lindung nilai alias safe haven untuk mengamankan dananya di tengah ketidakpastian pasar saham AS.  
Apakah emas menjadi pilihan tepat untuk investor di tengah kondisi seperti ini? Soni Wibowo, Direktur Riset & Investasi Bahana TCW Investment menganggap, meski bursa saham Indonesia akan terpengaruh sentimen AS tersebut, namun, secara fundamental, ekonomi Indonesia akan tetap utuh. 

Pemilu AS tidak akan memberikan efek yang terlalu besar bagi pasar Indonesia dan investor domestik. “Ini karena kebijakan mereka tidak dirasakan secara langsung dan berdampak terlalu besar bagi perekonomian Indonesia,” kata dia. 

Soni melihat, belum tentu para investor akan mendapatkan keuntungan apabila beralih ke emas jelang pemilu AS. “Dilihat dari permintaan yang ada di pasar, permintaan emas belakangan berkurang karena perekonomian sedang melambat. Namun, exchange-traded fund (ETF) emas dan derivatif emas lainnya sangat meriah,” terang dia. 

Jelang pemilu AS yang semakin dekat, investor memang harus melihat fundamental perusahaan selain fundamental ekonomi. Untuk di Indonesia, Soni masih melihat saham dan obligasi sebagai pilihan terbaik bagi para investor untuk memarkirkan uangnya. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini