Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Rencana Perubahan Regulasi Kripto di AS Berpotensi Bawa Bitcoin ke Level US$ 70.000

 

Bitcoin (BTC) melanjutkan tren kenaikan dengan menembus harga US$ 68.000 atau sekitar Rp 1,06 miliar. Penguatan BTC didorong arus masuk dana ETF dan meningkatnya spekulasi Donald Trump mungkin terpilih dalam pemilu Amerika Serikat (AS).

Mengutip Coinmarketcap, pada Kamis (17/10) pukul 13.30 WIB, Bitcoin 10,54% dalam sepekan terakhir dan Bitcoin mengalami peningkatan harga menembus US$68.000 untuk pertama kalinya sejak 29 Juli tahun ini.

Menurut Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, berita tentang kemungkinan perubahan dalam regulasi kripto AS semakin memanaskan pasar. Donald Trump, calon terdepan dari Partai Republik, disebut-sebut akan membongkar hambatan regulasi kripto jika ia terpilih kembali.

Pernyataan tersebut berasal dari anggota Kongres Bryan Donalds, yang menyampaikan bahwa Trump berpotensi memberhentikan Ketua SEC, Gary Gensler pada hari pertama masa jabatannya. Selain itu, platform taruhan Polymarket melaporkan bahwa peluang kemenangan Trump dalam Pemilu Presiden AS meningkat dari 54,7% pada 14 Oktober menjadi 58,5% pada 17 Oktober.

“Kemenangan Trump dianggap sebagai faktor positif bagi BTC, karena investor mengantisipasi regulasi yang lebih longgar dan lebih ramah terhadap kripto,” jelas Fyqieh dalam siaran pers, Kamis (17/10).

Lebih lanjut, Fyqieh mengatakan, investor besar juga ikut terlibat dalam tren bullish ini. Pada Selasa (14/10), pasar ETF BTC-spot AS melaporkan total arus masuk bersih sebesar US$ 371 juta atau sekitar Rp 5,7 triliun, dengan arus masuk terus berlanjut hingga Rabu (17/10).

Beberapa ETF yang menunjukkan aktivitas signifikan meliputi: Fidelity Wise Origin Bitcoin Fund (FBTC) arus masuk sebesar US$ 14,8 juta dan Bitwise Bitcoin ETF (BITB) arus masuk sebesar US$12,9 juta.

Dalam tiga hari terakhir, total arus masuk bersih mencapai lebih dari US$ 65 juta, yang mencerminkan kepercayaan kuat investor terhadap potensi kenaikan harga BTC lebih lanjut.

Namun walaupun tren saat ini sangat positif, Fyiqeh mengingatkan, investor tetap harus waspada terhadap risiko yang ada, termasuk potensi penjualan besar-besaran BTC oleh pemerintah AS, yang memegang lebih dari 203.000 BTC.

Jika pemerintah AS memutuskan untuk menjual cadangannya, hal ini bisa memberikan tekanan besar pada harga Bitcoin. Namun, tren arus masuk ETF yang kuat dan sentimen positif terhadap kebijakan suku bunga Fed membantu meredam kekhawatiran ini.

Fyqieh menambahkan sentimen bullish ini bisa menjadi peluang besar bagi investor, terutama jika ada perubahan dalam regulasi kripto AS yang memberikan lebih banyak kebebasan kepada pasar.

"Jika regulasi AS berubah menjadi lebih ramah terhadap kripto, kita bisa melihat kenaikan harga Bitcoin yang lebih agresif. Investor harus terus mengikuti perkembangan ini dan memanfaatkan momentum yang ada," ujar dia.

Fyqieh menyebutkan, investor harus mempertimbangkan sentimen terhadap jalur suku bunga Fed, Pemilihan Presiden AS, dan tren arus pasar ETF BTC-spot AS. Penembusan dari level tertinggi hari Rabu di US$ 68.387 akan membawa level resistensi US$ 69.000 ke dalam permainan.

"Lebih jauh lagi, penembusan di atas level resistensi US$ 69.000 dapat memberi peluang bagi para pembeli untuk mencapai level US$ 70.000," imbuhnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini