Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Intip Rekomendasi Saham Pilihan Analis Rabu (2/10), IHSG Berpotensi Menguat Terbatas

 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan memulai perdagangan dari posisi 7.642,13 pada hari ini, Rabu (2/10). Level ini didapat setelah IHSG menguat 1,52%  pada akhir perdagangan Selasa (1/10). 

Direktur Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus melihat sentimen global dari sejumlah rilis data Amerika Serikat (AS) memengaruhi kondisi pasar. 

Misalnya, US JOLTS Job Openings mengalami kenaikan dari sebelumnya 7.711 ribu pada Agustus 2024 menjadi 8.040 ribu pada September 2024. Hal ini tentu saja mengindikasikan bahwa adanya peningkatan permintaan tenaga kerja yang moderat. 

Untuk ISM Manufacturing juga tetap berada di level 47,2 pada September 2024. Meskipun stabil, dirinya melihat ada potensi pelemahan di masa mendatang. 

Dari pasar Eropa, data inflasi secara bulanan (month on month/MoM) mengalami penurunan dari sebelumnya 0,1% pada Agustus menjadi -0,1% dan secara tahunan (yoy) turun dari sebelumnya 2,2% menjadi 1,8%.

Kemudian Consumer Price Index mengalami penurunan dari sebelumnya 2,8% (yoy) menjadi 2,7% (yoy). Melihat kondisi itu, Bank Sentral Eropa tampaknya akan kembali menurunkan tingkat suku bunga. Ditambah lagi adanya tensi geopolitik yang kembali memanas. 

"Untuk pertama kalinya sejak tahun 2021, inflasi Eropa akhirnya turun di bawah 2% yang membuat potensi penurunan sebanyak 25 basis poin (bps) mulai kembali terlihat," kata Nico dalam riset hariannya, Rabu (2/10).

Dari pasar dalam negeri, Bank Indonesia merilis tingkat inflasi Indonesia untuk bulan September 2024 yang secara tahunan tercatat menurun dari sebelumnya 2,12% menjadi 1,84%, secara bulanan juga mengalami penurunan dari sebelumnya -0,03% menjadi -0,12%, dan inflasi inti secara tahunan tercatat naik dari sebelumnya 2,02% menjadi 2,09%. 

"Dengan begitu Indonesia telah mengalami deflasi selama 5 bulan berturut," ujarnya.

Selain inflasi, kemarin indeks manufaktur PMI untuk bulan September juga yang masih terkontraksi atau di bawah 50 meskipun mengalami kenaikan dari sebelumnya 48,9 menjadi 49,2.

"Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance di level 7.465 – 7.675. Potensi koreksi, tetap terbuka," terangnya.

Equity Analyst Kanaka Hita Solvera William Wibowo menyampaikan secara teknikal IHSG masih lebih berpeluang menguji support 7.460 dengan resistance 7.740 pada Rabu (2/10).

"Sentimen profit taking, pergerakan harga komoditas serta pergerakan bursa saham internasional berpotensi akan mempengaruhi pergerakan IHSG," kata William kepada Kontan, Selasa (1/10).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)