Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Intip Proyeksi Pergerakan Rupiah untuk Jumat

 

Rupiah ditutup melemah tipis pada perdagangan Kamis (9/11) kemarin. Sentimen buruknya ekonomi China menambah kekhawatiran mengenai arah suku bunga The Fed.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, nilai tukar rupiah bersama mata uang Asia lainnya cenderung menguat terbatas di hadapan dolar AS pada awal perdagangan kemarin. Penguatan rupiah seiring masih berlanjutnya pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) sekitar 0,01% ke level 105,58.

Hingga sesi pertama, nilai tukar rupiah diperdagangkan dalam rentang yang terbatas di level Rp 15.635 – Rp 15.650 per dolar AS. Hal itu mengingat pelaku pasar masih menantikan pidato gubernur bank sentral AS Jerome Powell pada hari Kamis waktu AS.

“Gubernur Federal Reserve AS akan membahas tantangan kebijakan moneter pada panel IMF,” ucap Josua kepada Kontan.co.id, Kamis (9/11).

Josua menyoroti bahwa imbal hasil obligasi AS bertenor 30 tahun turun ke level terendah lebih dari satu bulan di sesi sebelumnya. Sementara dari regional Asia, China tercatat kembali mengalami deflasi 0,1% YoY di bulan Oktober, yang mengindikasikan upaya pemerintah untuk menjaga momentum ekonomi domestik dapat mendukung pertumbuhan ekonomi.

People's Bank of China (PBoC) juga mengurangi langkah-langkah stabilisasi terhadap Yuan karena mata uangnya cenderung stabil. Deflasi juga memberikan sinyal bahwa permintaan konsumen di Tiongkok masih sangat terbatas.

“Kekhawatiran tersebut mendorong sentimen risk-off di pasar kembali mendominasi, sehingga mendorong rupiah kembali melemah,” imbuh Josua.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, kelemahan di China menjadi pertanda buruk bagi pasar Asia yang lebih luas, mengingat China memiliki posisi penting sebagai mitra dagang. Data pemerintah menunjukkan bahwa inflasi konsumen dan produsen China menyusut pada bulan Oktober.

Ibrahim menuturkan, dinamika perlambatan dan meningkatnya risiko ketidakpastian pasar keuangan global berdampak cukup signifikan pada hampir seluruh negara emerging market, termasuk Indonesia. Efeknya bisa terlihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan III 2023 tercatat hanya 4,94% dari kuartal sebelumnya tumbuh 5,17%, terutama akibat menurunnya kinerja ekspor barang dan jasa.

“Tren perlambatan global diperkirakan berlanjut dan berpotensi menggeret pertumbuhan triwulan IV kembali berada di bawah 5%. Sehingga, secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2023 berisiko di bawah 5%,” ungkap Ibrahim dalam riset harian, Kamis (9/11).

Menurut Ibrahim, pekan ini pasar diliputi ketidakpastian terkait arah suku bunga The Fed. Sejumlah pejabat Fed memperingatkan minggu ini bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, dan pasar harus berhati-hati dalam bertaruh pada penurunan suku bunga lebih awal.

Josua melihat, pelaku pasar akan menantikan rilis data Initial Jobless Claim AS yang diperkirakan kembali meningkat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Perkiraan data Intial Jobless Claim AS pada pekan pertama bulan November 2023 berkisar 218.000 dari pekan sebelumnya sebesar 217.000.

Oleh karena itu, Josua memperkirakan rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp 15.600-15.700 per dolar AS di perdagangan hari ini, Jumat (10/11). Sedangkan Ibrahim memprediksi  rupiah akan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp 15.640 - Rp 15.740 per dolar AS.

Menurut Bloomberg, Rupiah ditutup melemah 0,03% ke level harga Rp 15.655 per dolar AS pada perdagangan Kamis (9/11). Sementara pelemahan rupiah Jisdor sekitar 0,04% menuju level harga Rp 15.649 per dolar AS.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini