Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

API Sebut IPO Bisa Tambah Daya Saing Pertamina Geothermal Energy

 


Langkah PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) dinilai positif.

Ini diungkaokan Senior Advisor Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) Abadi Poernomo. Menurut dia, dengan masuk ke bursa saham, bisa membuat PGE semakin efisien yang pada akhirnya akan meningkatkan pula daya saing perusahaan.

“Efisiensi berpengaruh terhadap daya saing PGE. Dan pada akhirnya tarif listrik bisa ditekan lebih kuat lagi," jelas dia melansir Antara, seperti dikutip Rabu (8/2/2023).

Peningkatan efisiensi dan juga efektivitas penggunaan dana, menurut dia, terkait erat dengan keberadaan pemegang saham dari luar, terlebih, karena juga terdapat prinsip transparansi pada perusahaan terbuka.

"Karena itulah, melalui IPO, kontrol terhadap perusahaan menjadi lebih ketat," ujar Abadi.

IPO PGE, katanya lagi, merupakan upaya yang tepat, karena menjadi cara untuk mendapatkan dukungan pendanaan yang lebih murah dan sangat dibutuhkan, karena investasi geothermal memang sangat mahal.

"Artinya dengan masuknya dana lewat IPO, maka PGE bisa ekspansi lebih kuat. Dengan demikian, melalui IPO PGE bisa lebih fokus mandiri, walau 70 persen masih dipegang Pertamina. Tetapi setidaknya, lebih lincah dari sisi pendanaan," katanya lagi.

Dia menyatakan, sebelumnya PGE bisa saja memperoleh dari lembaga pinjaman, misal World Bank dengan bunga murah, tetapi perusahaan wajib membayar pinjaman setiap tahun.

"Ini yang berbeda dengan IPO. Karena melalui IPO, untung atau rugi bisa dishare ke pemegang saham,” ujarnya pula.

Menurut dia, di luar negeri sudah banyak ditemui perusahaan energi yang masuk ke bursa saham. Pada umumnya, perusahaan tersebut bergerak di bidang energi terbarukan, seperti hydro dan hybrid photoponic solar.

Pada sisi lain, Abadi sepakat bahwa IPO PGE juga mendukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE) paling lambat 2060, karena geothermal memang menjadi "tulang punggung" dalam upaya mendukung dekarbonisasi.

"Geothermal dan hydro paling sustain dengan energi baru terbarukan. Efektivitas panas bumi bisa mencapai 90-100 persen. Sementara, photoponic hanya sekitar 17 persen," katanya pula.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)