Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Pemulihan Ekonomi AS Tekan Rupiah ke Rp14.755 per Dolar AS

 

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.755 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Kamis (3/9) pagi. Mata uang Garuda melemah 0,07 persen dibandingkan perdagangan kemarin sore di level Rp14.745 per dolar AS.

Pagi ini, mata uang di kawasan Asia masih bergerak variatif terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,05 persen, dolar Singapura melemah 0,4 persen, won Korea Selatan melemah 0,10 persen, peso Filipina melemah 0,06 persen, dan rupee India melemah 0,22 persen.

Sebaliknya, yuan China menguat 0,12 persen, ringgit Malaysia menguat 0,22 persen, baht Thailand menguat 0,05 persen, dan dolar Taiwan menguat 0,32 persen.

Sementara itu, gerak mata uang di negara maju terhadap dolar AS juga masih bervariasi. Poundsterling Inggris menguat 0,17 persen dan dolar Australia menguat 0,26 persen. Sedangkan, dolar Kanada melemah 0,12 persen dan franc Swiss melemah 0,15 persen.

Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan dolar AS masih terlihat menguat terhadap nilai tukar mata uang negara lainnya karena sentimen pemulihan ekonomi di negeri Paman Sam.

Hal tersebut terlihat dari membaiknya data indeks manufaktur Institute for Supply Management (ISM) melonjak menjadi 1,6 poin menjadi 54,2 persen, tertinggi dalam setahun dan mengalahkan konsensus.

Dari 18 industri manufaktur, 13 melaporkan pertumbuhan bulan lalu. "Ini bisa menjadi salah satu faktor pendorong pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS hari ini," ujarnya

Dari dalam negeri, faktor deflasi dan isu burden sharing mungkin menambah tekanan ke rupiah. Di sisi lain, reli yang terjadi di bursa saham emerging markets bisa menahan pelemahan nilai tukar rupiah.

"Potensi pergerakan rupiah hari ini berada di kisaran Rp14.650 per dolar AS sampai Rp14.850 per dolar AS," tandasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini