Harga Emas Naik pada Perdagangan Kamis (5/3/2026) Pagi

  Harga emas melanjutkan kenaikan pada perdagangan Kamis (5/3/2026) pagi. Pukul 07.47 WIB, harga emas untuk pengiriman April 2026 di Commodity Exchange ada di US$ 5.182,30 per ons troi, naik 0,93% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 5.134,70 per ons troi. Harga emas kembali naik setelah sempat jeda koreksi. Para pembeli memanfaatkan penurunan harga untuk kembali masuk ke pasar di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik di Timur Tengah . Mengutip Bloomberg , harga emas telah naik sekitar 20% tahun ini, dan mencapai level tertinggi sepanjang masa di atas US$ 5,595 pada akhir Januari. Tingginya permintaan yang didukung oleh ketegangan geopolitik dan kekhawatiran tentang independensi Federal Reserve mendorong kenaikan harga emas. Peter Kinsella , kepala strategi forex global di UBP SA mengatakan, penurunan tajam dan taruhan bullish hedge fund dan manajer investasi seharusnya membatasi penurunan harga emas. "Saya pikir kita pasti akan melihat pemulihan harga emas,...

Kilang Minyak Aramco Diserang, Dolar AS Menguat Jadi Rp14.082


Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.082 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Selasa (17/9) pagi. Posisi ini melemah 0,28 persen dibanding perdagangan rupiah pada Senin (16/9) sore yakni Rp14.042 per dolar AS.

Pagi hari ini, mayoritas mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Dolar Singapura melemah 0,03 persen, yen Jepang melemah 0,06 persen, baht Thailand melemah 0,08 persen, ringgit Malaysia melemah 0,15 persen, peso Filipina melemah 0,22 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,32 persen.

Di kawasan Asia, hanya dolar Hong Kong saja yang menguat terhadap dolar AS dengan nilai 0,03 persen. Mata uang negara maju seperti dolar Australia melemah sebesar 0,06 persen terhadap dolar AS dan poundsterling Inggris pun melemah 0,07 persen. Namun, di sisi lain, euro menguat 0,07 persen.


Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah masih disebabkan oleh kenaikan permintaan minyak AS yang juga mendorong permintaan dolar AS. Ini terjadi setelah pasokan minyak dunia berkurang 5 persen akibat kilang minyak Arab Saudi milik Saudi Aramco di Abqaiq diserang.
Serangan kilang minyak tersebut sempat membuat harga minyak melambung hingga 15 persen. Hal ini dianggap sebagai sentimen negatif bagi rupiah mengingat Indonesia adalah negara pengimpor minyak.

Harga minyak yang naik menyebabkan nilai impor minyak membengkak, di mana hal tersebut akan semakin membebani defisit transaksi berjalan. Jika defisit transaksi berjalan membesar, maka devisa berkurang dan Bank Indonesia (BI) kurang memiliki amunisi di pasar valas untuk memperkuat nilai tukar rupiah.

"Oleh karena itu, rupiah akan rentan melemah. Dibayangi risiko depresiasi, rupiah tentu tidak menjadi pilihan," jelas Ibrahim, Selasa (17/9).
Hanya saja, masih ada angin segar yang menyokong pergerakan rupiah pada hari ini. Salah satunya, pelaku pasar menunggu hasil pertemuan bank sentral Jepang dan AS pada pekan ini. Bahkan, pelaku pasar masih meramal bahwa bank sentral AS The Fed akan menurunkan suku bunga acuan pada Jumat (20/9) mendatang.

Kemudian, pelaku pasar juga menyoroti pertemuan antara AS dan China ihwal negosiasi perang dagang pada bulan depan. "Sehingga rupiah pada hari ini ada di rentang Rp13.990 hingga Rp14.070 per barel," jelas dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025