Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Kilang Minyak Aramco Diserang, Dolar AS Menguat Jadi Rp14.082


Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.082 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Selasa (17/9) pagi. Posisi ini melemah 0,28 persen dibanding perdagangan rupiah pada Senin (16/9) sore yakni Rp14.042 per dolar AS.

Pagi hari ini, mayoritas mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Dolar Singapura melemah 0,03 persen, yen Jepang melemah 0,06 persen, baht Thailand melemah 0,08 persen, ringgit Malaysia melemah 0,15 persen, peso Filipina melemah 0,22 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,32 persen.

Di kawasan Asia, hanya dolar Hong Kong saja yang menguat terhadap dolar AS dengan nilai 0,03 persen. Mata uang negara maju seperti dolar Australia melemah sebesar 0,06 persen terhadap dolar AS dan poundsterling Inggris pun melemah 0,07 persen. Namun, di sisi lain, euro menguat 0,07 persen.


Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah masih disebabkan oleh kenaikan permintaan minyak AS yang juga mendorong permintaan dolar AS. Ini terjadi setelah pasokan minyak dunia berkurang 5 persen akibat kilang minyak Arab Saudi milik Saudi Aramco di Abqaiq diserang.
Serangan kilang minyak tersebut sempat membuat harga minyak melambung hingga 15 persen. Hal ini dianggap sebagai sentimen negatif bagi rupiah mengingat Indonesia adalah negara pengimpor minyak.

Harga minyak yang naik menyebabkan nilai impor minyak membengkak, di mana hal tersebut akan semakin membebani defisit transaksi berjalan. Jika defisit transaksi berjalan membesar, maka devisa berkurang dan Bank Indonesia (BI) kurang memiliki amunisi di pasar valas untuk memperkuat nilai tukar rupiah.

"Oleh karena itu, rupiah akan rentan melemah. Dibayangi risiko depresiasi, rupiah tentu tidak menjadi pilihan," jelas Ibrahim, Selasa (17/9).
Hanya saja, masih ada angin segar yang menyokong pergerakan rupiah pada hari ini. Salah satunya, pelaku pasar menunggu hasil pertemuan bank sentral Jepang dan AS pada pekan ini. Bahkan, pelaku pasar masih meramal bahwa bank sentral AS The Fed akan menurunkan suku bunga acuan pada Jumat (20/9) mendatang.

Kemudian, pelaku pasar juga menyoroti pertemuan antara AS dan China ihwal negosiasi perang dagang pada bulan depan. "Sehingga rupiah pada hari ini ada di rentang Rp13.990 hingga Rp14.070 per barel," jelas dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)