Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Ekspor Bijih Nikel Dilarang, China-Korea Pasrah Bangun Pabrik


Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyebut China dan Korea Selatan akan membangun pabrik di Indonesia. Rencana itu sejalan dengan larangan ekspor bijih nikel yang akan diberlakukan mulai Januari 2020 nanti.

Dalam keterangan resminya, Senin (23/9), Luhut menilai rencana pembangunan pabrik itu sebagai dampak positif dari larangan ekspor nikel demi meningkatkan hilirisasi di dalam negeri.

"Pada pertemuan dengan LG Chemical di Seoul, Korsel, beberapa hari lalu, mereka bilang sedang mempertimbangkan pengembangan fasilitas produksi baterai lithiumnya di RI, setelah mendengar rencana larangan ekspor bijih nikel dan harga di pasar global yang terus naik," ujarnya usai menghadiri ASEAN-China Expo di Nanning, China.

LG Chemical belum menentukan mitranya untuk membangun pabrik. Namun, perusahaan Korsel itu berpotensi menggandeng China atau Volkswagen, produsen mobil Jerman yang sedang mengembangkan mobil listrik.
Menurut Luhut, rencana LG Chemical itu akan mendukung rencana pemerintah dalam mengembangkan kendaraan listrik. Terlebih bahan baku baterai mobil listrik ialah nikel dengan kadar di bawah 1,4 persen yang saat ini masih diekspor.

"Mobil listrik juga menggunakan aluminium dan carbon steel seperti untuk bagian casis-nya, mesin dan lainnya. Dengan begitu, kami berharap penerimaan pajak akan meningkat dan membuka lebih banyak lapangan kerja," imbuh dia.

Di sela-sela kunjungannya ke China, Luhut menyempatkan diri untuk bertemu dengan Wakil Ketua Komisi Pembangunan Nasional dan Reformasi China (NDRC) Ning Jizhe.

Dalam kesempatan itu, Ning menyampaikan dampak pelarangan ekspor nikel yang juga dirasakan negaranya, yang 50-75 persen pasokannya sangat bergantung dari Indonesia.

Sebelumnya, Luhut menyebut ada tambahan komitmen investasi hilirisasi nikel sebesar US$20 miliar atau setara Rp280 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar AS) hingga 2024 nanti.

"Kami cari investasi langsung dari asing yang baru. Sampai 2024 mendatang, jumlahnya hampir US$30 miliar, belum termasuk baterai lithium," tutur dia.

Jika ditambah dengan investasi baterai lithium, maka jumlahnya bisa lebih dari US$30 miliar. Kebanyakan investor membangun pabriknya di Morowali dan Weda Bay.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)