Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Industri Batu Bara AS Berguguran, Usaha Bangkrut Bertambah

 

Awan gelap menyelimuti industri tambang batu bara di AS. Melemahnya permintaan di tengah pandemi corona mengakibatkan banyak orang kehilangan pekerjaan yang diikuti kebangkrutan perusahaan batu bara.

Data pekerjaan AS pada November lalu menyebut industri ini telah memangkas 8.000 pekerjaan atau 15 persen dari total tenaga kerja mereka selama 12 bulan terakhir.

Terbaru, yaitu dua perusahaan tambang batu bara Lighthouse Resources dan White Stalllion Energy bangkrut. Keduanya menjadi perusahaan keempat dan kelima yang mengajukan pailit dalam lima bulan terakhir.

Menurut BankruptcyData.com, seperti dilansir CNN Business, Kamis (10/12), total ada lima perusahaan tambang batu bara yang bangkrut. Tiga pendahulunya yang mengajukan pailit awal tahun ini adalah Hopewell Mining, FM Coal, dan CLI USA.

White Stallion yang berbasis di Evansville, Indiana, memutuskan hubungan kerja (PHK) dengan 260 karyawannya sebelum mengajukan pailit. Sementara, Lighthouse, tambang batu bara yang berbasis di Utah dan Montana memberhentikan 76 pekerja.

"Mengingat kondisi pasar yang menantang, kami diminta untuk mengurangi biaya dan mengatur ulang bisnis kami yang berakibat pada pengurangan tenaga kerja di Montana," imbuh CEO Lighthouse Everett King.

King mengaku sedih dengan kebijakan ini, yang berdampak pada individu, keluarga, dan komunitas. "Namun, kami tidak punya pilihan," terang dia.

Memang, lima perusahaan tambang batu bara yang disebutkan di atas berskala kecil. Namun, jumlahnya yang banyak tetap saja mengkhawatirkan.

Apalagi, bukan hanya penambang kecil yang menderita. Peabody Energy, salah satu raksasa tambang batu bara terbesar di AS, juga ikut merasakan guncangan bisnis. Perusahaan mengklaim kehilangan pendapatan US$1,7 miliar dalam sembilan awal tahun ini dan saat ini tengah bernegosiasi untuk melakukan restrukturisasi utang.

Para eksekutif perusahaan mengaku pandemi covid-19 memberi pukulan telak bagi industri batu bara yang sudah kesulitan sebelumnya. Menurut mereka, problem di industri tambang batu bara terjadi sejak 2009.

"Tahun 2020 menjadi tahun yang berbeda. Di AS, pembangkit baru bara turun 24 persen, karena pandemi corona mempercepat penurunan permintaan yang terjadi selama beberapa tahun terakhir," kata CEO Peabody Glenn Kellow.

Ditambah lagi, meningkatnya persaingan pasar dari sumber energi berbiaya rendah, seperti gas alam dan energi baru terbarukan, yang mengakibatkan jatuhnya harga dan konsumsi batu bara.

Belum lagi, perang dagang AS dengan China yang mempengaruhi permintaan batu bara di pasar primer.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025