Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Harga Pangan Global Naik, Tertinggi Sejak 2014

 

Harga pangan global melonjak ke level tertinggi dalam enam tahun terakhir pada November 2020. Kondisi itu tercermin dari kenaikan indeks harga pangan yang dirilis oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).

Badan di bawah Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) itu mencatat rata-rata indeks harga pangan dunia mencapai 105 poin pada bulan lalu. Angka tersebut naik 3,9 persen dari Oktober dan 6,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Kenaikan bulanan (indeks) merupakan yang tertajam sejak Juli 2012, dan membuat indeks berada di level tertinggi sejak Desember 2014," jelas FAO dalam keterangannya, dikutip dari AFP, Kamis (3/11).

Jika dirinci, kenaikan terbesar terjadi pada indeks minyak nabati yang mencapai 14,5 persen. Indeks naik karena rendahnya pasokan minyak sawit.

Sementara, indeks harga sereal naik 2,5 persen dari Oktober. Apabila dibandingkan periode yang sama tahun lalu, indeks melonjak hampir 20 persen.

Peningkatan indeks harga juga terjadi pada ekspor gandum. Kondisi itu terjadi karena berkurangnya prospek panen di Argentina. Hal sama juga terjadi pada harga jagung seiring turunnya ekspektasi produksi di Amerika Serikat dan Ukraina serta tingginya permintaan dari China.

Indeks harga gula juga terjadi kenaikan sebesar 3,3 persen secara bulanan karena produksi global diperkirakan tak mencukupi permintaan di tengah buruknya cuaca.

 

 

Harga produk susu juga menanjak 0,9 persen ke level tertinggi dalam 18 bulan terakhir. Salah satu penyebabnya adalah kenaikan penjualan di Eropa. Harga daging juga naik 0,9 persen namun lebih rendah dibandingkan November 2019.

FAO menilai berbagai lonjakan harga itu menambah tekanan bagi 45 negara yang saat ini membutuhkan bantuan untuk menyediakan pangan bagi penduduknya di tengah pandemi. Sebanyak 34 negara di antaranya merupakan negara di Afrika.

"Pandemi memperburuk kondisi yang sudah rapuh karena konflik, hama, dan guncangan cuaca, termasuk badai di Amerika tengah dan banjir di Afrika baru-baru ini," terang FAO.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)