Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Survei, Perang Dagang Runtuhkan Kepercayaan Diri Pebisnis


Perang dagang telah menurunkan kepercayaan diri pada perusahaan di Asia. Penurunan tercermin dari hasil survey Thomson Reuters.

Dari hasil survei yang dilakukan Reuters terhadap 95 perusahaan di 11 negara di kawasan Asia-Pasifik pada kurun waktu 31 Mei sampai dengan 14 Juli lalu didapat bahwa Indeks Sentimen Bisnis Asia hanya 53, turun dibandingkan kuartal sebelumnya yang masih bisa mencapai 63.

Level tersebut merupakan yang terendah sejak krisis keuangan 2008-2009. Angka di atas 50 memang masih berarti responden yang optimis melebihi jumlah pesimis.


Tetapi kekhawatiran tentang ancaman perang dagang yang berkepanjangan mendorong indeks ke level terendah sejak kuartal Juni 2009, atau ketika edisi pertama survei dirilis.
"Ada penurunan besar (dalam indeks) tiga kuartal lalu, dan kami merasa itu adalah ketidakpastian tentang perang perdagangan dan orang-orang khawatir tentang masa depan," kata Antonio Fatas, seorang profesor ekonomi yang berbasis di Singapura di sekolah bisnis global INSEAD seperti dikutip dari Reuters, Rabu (19/6).

"Kami memahami setelah empat perempat angka rendah bahwa sekarang, ini bukan hanya ketidakpastian. Ini adalah perlambatan pertumbuhan yang sebenarnya. Kami melihat aktivitas menurun - bukan hanya harapan bahwa aktivitas akan menurun," tambahnya.

Pilihan redaksi
www.ptbestprofit.com
www.ptbestprofitfutures.com
www.pt-bestprofit.com


Perang dagang saat ini sedang berkecamuk antara AS dengan China. Sampai saat ini, perang belum menunjukkan tanda akan berakhir.

Bahkan, ketegangan dagang belakangan ini semakin menjadi setelah Presiden Trump awal Mei lalu memberlakukan kenaikan tarif pada produk China senilai US$ 200 miliar menjadi 25 persen dan mengancam untuk mengenakan tarif tambahan kepada produk China senilai US$300 miliar.


Presiden Trump menyatakan siap memberlakukan tarif baru pada produk dari China jika tak dapat membuat kemajuan dalam pembicaraan perdagangan dengan Presiden China Xi Jinping pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Osaka, Jepang Juni ini.

Tak mau kalah, China menyatakan akan merespons 'serangan' AS tersebut. "China tidak ingin berperang, tetapi kami tidak takut berperang. Jika Amerika Serikat hanya ingin meningkatkan friksi perdagangan, kami akan dengan tegas menanggapi dan berjuang sampai akhir," ujar Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang seperti dikutip dari Reuters, Selasa (11/6).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini