Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

13 Juta Data Pribadi Dihargai Rp20 Juta


Ahli Digital Forensik menemukan 7,5 miliar data pribadi masyarakat telah bocor secara global. CEO Digital Forensic Indonesia Ruby Alamsyah mengatakan peretas menjual 13 juta data pribadi dengan harga Rp 20 juta di dark web dan deep web.

Ruby menjelaskan para peretas memilih metode pembayaran dengan menggunakan mata uang kripto. Pasalnya mata uang kripto ini bagi peretas lebih sulit dilacak.

"Kalau mereka lebih memilih untuk dibayar melalui bitcoin karena sulit terlacak. 13 juta data itu dihargai Rp20 juta dan mereka lebih memilih untuk dibayar lewat Bitcoin," ujar Ruby saat diskusi Perlindungan Data Pribadi (PDP) di kantor Badan Siber Sandi Negara, Jakarta Selatan, Senin (27/5).

Ruby menjelaskan di Indonesia sendiri kebocoran data tidak hanya berasal dari e-commerce atau fintech. Akan tetapi juga portal pencari kerja mulai dari Jobstreet hingga LinkedIn.

"Kebocoran data juga terjadi di level bawah seperti informasi data alumni, termasuk kebocoran data dari Yahoo. Beberapa tahun belakangan portal online di Indonesia mulai diserang mungkin karena pengguna startup tinggi," ujar Ruby.

Ruby mengatakan data yang bocor berupa nama lengkap, alamat, email, nomor ponsel, password yang terenkripsi, hingga alamat IP. Ruby mengatakan kebocoran data salah satunya berasal dari e-commerce berstatus Unicorn di Indonesia.

Akan tetapi, Ruby kecewa ketika pemerintah percaya saat e-commerce tersebut mengatakan tidak ada data yang bocor. Padahal pemerintah menurut Ruby bisa melakukan digital forensik untuk membuktikan apakah data tersebut bocor atau tidak.
Ruby mencurigai di antara data yang bocor, terdapat data nasional yang bocor. Ia mengatakan hal tersebut karena ada beberapa pihak yang mencoba untuk mengancam keamanan nasional.

"Dari situ, menurut analisis yang lebih dalam, tidak hanya data pribadi masyarakat, kami mengkhawatirkan adanya masalah keamanan nasional di dalam bila ada data-data pihak tertentu yang tadinya harusnya rahasia dan tidak terpublikasikan dan ternyata ada datanya di situ," ujar Ruby.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini