Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Aprindo Sebut Penjualan Ritel Lebaran Tak Sesuai Harapan


Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengungkapkan hasil penjualan sektor ritel selama Ramadan-Lebaran tahun ini mengecewakan. Khususnya, penjualan produk non makanan dan minuman, seperti pakaian dan perlengkapan rumah tangga.

Wakil Ketua Aprindo Tutum Rahanta mengatakan rata-rata pertumbuhan penjualan ritel makanan sebenarnya masih mencapai kisaran 10 persen. Namun, rata-rata pertumbuhan ritel non makanan dan minuman tidak mengalami pertumbuhan.

"Beberapa masih ada yang positif, tapi yang turun, minus, lebih banyak. Jadi average (rata-rata) tidak tumbuh, padahal Lebaran adalah momen puncak bagi kami," ujar Tutum di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (13/6).


Pilihan redaksi
www.ptbestprofit.com
www.ptbestprofitfutures.com
www.pt-bestprofit.com


Bahkan, menurut Tutum, hasil penjualan ritel non makanan dan minuman jauh lebih rendah dari satu sampai dua tahun lalu yang juga tertekan isu pelemahan daya beli masyarakat. Walhasil, target pertumbuhan ritel yang semula diperkirakan bisa mencapai kisaran 8-10 persen pada tahun ini berpeluang kandas.
momen kemarin, tapi ternyata susah," katanya.

Menurut Tutum, penurunan penjualan ritel non makanan dan minuman tak hanya tergerus lesunya kemampuan membeli masyarakat. Namun, persaingan dengan penjualan dalam jaringan (online) yang kian meningkat.

Sayangnya, kinerja penjualan online tak bisa dibeberkan dengan angka pasti karena masing-masing pemain biasanya tidak membuka kinerja mereka. "Tapi kalau diurutkan, pertama karena daya beli masyarakat yang turun. Kedua, persaingan dengan online," katanya.

Dengan kondisi seperti ini, Tutum meminta pemerintah memperhatikan kondisi industri ritel dalam negeri. Sebab, pertumbuhan sektor ini juga menjadi salah satu tolak ukur kontribusi tinggi dari indikator konsumsi masyarakat yang menopang pertumbuhan ekonomi.

Misalnya, dengan memberikan akses pasar ke pusat perbelanjaan strategis, pemerataan upah tenaga kerja, hingga mengurangi impor barang jadi. "Kami umumnya brand lokal butuh dukungan. Kalau bisa tak hanya meningkatkan ekspor, tapi juga cegah impor," pungkasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini