Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Paris Siapkan Taksi Terbang pada Olimpiade 2024


Paris tengah mengerjakan inovasi alat transportasi taksi terbang yang bakal melayani pengunjung yang hendak menonton turnamen di Olimpiade Paris 2024. Taksi ini akan membawa penumpang dari Bandara Charles de Gaulle ke kota Paris.

Taksi "terbang" ini dibuat untuk mempersingkat waktu tempuh bandara hingga ke kota Paris. Sebab, saat ini jarak keduanya memakan waktu satu jam. Maka, melalui transportasi ini pengunjung dapat menghemat waktu kurang dari satu jam.

Ada tiga perusahaan yang terlibat dalam proyek tersebut yaitu Airbus, Aeroports de Paris dan Otoritas Transportasi Paris.
"Pada 2010 untuk pertama kalinya, lebih dari setengah umat manusia tinggal di perkotaan dan menurut kami pada tahun 2030 angka itu akan melampaui 60 persen," kata CEO Airbus Guillaume Faury dikutip Phys.


Sementara itu Aeroports de Paris harus memilih lokasi pusat taksi "terbang" di Paris pada akhir 2019 dan harus siap dalam waktu 18 bulan. Menurut Direktur Jenderal Eksekutif ADP Group Edward Arkwright, pihaknya membutuhkan investasi infrastruktur sebesar US$11,3 juta untuk menyiapkan lokasi itu.

Lalu, untuk membuat mesin Vertikal Take-off and Landing (VTOL) yang bakal disematkan pada taksi, ADP bekerja sama dengan Airbus. Keduanya akan bekerjasama dalam beberapa tahun ke depan untuk mengembangkan skema mobilitas perkotaan. Idealnya, taksi ini nantinya akan tersedia tiap enam menit sekali.

"Kemitraan ini adalah peluang unik untuk mengembangkan solusi teknologi, produk, kerangka kerja dan model ekonomi," ucap Faury.
ADP dan Airbus diketahui telah memiliki dua model prototipe taksi "terbang" yaitu Vahana yang dirancang dengan kursi tunggal dan CityAirbus dengan empat kursi.

Teknologi baterai dan pendeteksi tabrakan pada taksi-taksi terbang ini makin baik, seperti diungkap Kepala Bidang Aeronautika dan Masalah Pertahanan Deloitte Jean-Louis Rassineux. Namun, taksi terbang ini masih harus menyelesaikan sejumlah kendala seperti kompatibilitas dan pengaturan lalu lintas udara.

"Proyek ini tidak hanya mengurangi hambatan infrastruktur tetapi juga mengenai lalu lintas udara karena melibatkan percobaan dalam koridor [udara] tertentu," jelas Rassineux.
Saat ini, taksi terbang ini akan menggunakan kolom udara yang biasa digunakan oleh helikopter seperti diungkap Arkwright yang dilansir Engadget. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025