Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Paris Siapkan Taksi Terbang pada Olimpiade 2024


Paris tengah mengerjakan inovasi alat transportasi taksi terbang yang bakal melayani pengunjung yang hendak menonton turnamen di Olimpiade Paris 2024. Taksi ini akan membawa penumpang dari Bandara Charles de Gaulle ke kota Paris.

Taksi "terbang" ini dibuat untuk mempersingkat waktu tempuh bandara hingga ke kota Paris. Sebab, saat ini jarak keduanya memakan waktu satu jam. Maka, melalui transportasi ini pengunjung dapat menghemat waktu kurang dari satu jam.

Ada tiga perusahaan yang terlibat dalam proyek tersebut yaitu Airbus, Aeroports de Paris dan Otoritas Transportasi Paris.
"Pada 2010 untuk pertama kalinya, lebih dari setengah umat manusia tinggal di perkotaan dan menurut kami pada tahun 2030 angka itu akan melampaui 60 persen," kata CEO Airbus Guillaume Faury dikutip Phys.


Sementara itu Aeroports de Paris harus memilih lokasi pusat taksi "terbang" di Paris pada akhir 2019 dan harus siap dalam waktu 18 bulan. Menurut Direktur Jenderal Eksekutif ADP Group Edward Arkwright, pihaknya membutuhkan investasi infrastruktur sebesar US$11,3 juta untuk menyiapkan lokasi itu.

Lalu, untuk membuat mesin Vertikal Take-off and Landing (VTOL) yang bakal disematkan pada taksi, ADP bekerja sama dengan Airbus. Keduanya akan bekerjasama dalam beberapa tahun ke depan untuk mengembangkan skema mobilitas perkotaan. Idealnya, taksi ini nantinya akan tersedia tiap enam menit sekali.

"Kemitraan ini adalah peluang unik untuk mengembangkan solusi teknologi, produk, kerangka kerja dan model ekonomi," ucap Faury.
ADP dan Airbus diketahui telah memiliki dua model prototipe taksi "terbang" yaitu Vahana yang dirancang dengan kursi tunggal dan CityAirbus dengan empat kursi.

Teknologi baterai dan pendeteksi tabrakan pada taksi-taksi terbang ini makin baik, seperti diungkap Kepala Bidang Aeronautika dan Masalah Pertahanan Deloitte Jean-Louis Rassineux. Namun, taksi terbang ini masih harus menyelesaikan sejumlah kendala seperti kompatibilitas dan pengaturan lalu lintas udara.

"Proyek ini tidak hanya mengurangi hambatan infrastruktur tetapi juga mengenai lalu lintas udara karena melibatkan percobaan dalam koridor [udara] tertentu," jelas Rassineux.
Saat ini, taksi terbang ini akan menggunakan kolom udara yang biasa digunakan oleh helikopter seperti diungkap Arkwright yang dilansir Engadget. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini