Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Ahli Ungkap KPU Alami Serangan Siber Saat Hari Pencoblosan


Ahli Digital Forensik Ruby Alamsyah menyebutkan beberapa serangan siber yang dialami Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada saat hari pencoblosan Pemilu 2019 pada 17 April. Serangan pertama yang dialami KPU adalah serangan denial-of-service (DDos).

DDos adalah serangan siber di mana peretas sengaja menyerang server layanan tertentu. Caranya dengan membanjiri server layanan itu dengan lalu lintas yang sangat tinggi, sehingga situs atau aplikasi tersebut sulit diakses oleh pengguna lain.

Ruby mengatakan DDos ini kemudian akan membuat server KPU down. Ketika server down,
"DDos itu menyerang misalnya KPU menyiapkan server infrastruktur agar bisa diakses oleh 200 juta masyarakat secara keseluruhan. Tapi DDos attack ini bisa mengirimkan 500 juta akses 1 miliar akses. Akhirnya kewalahan dan otomatis mati, dengan sesimpel itu saja," ujar Ruby usai diskusi Perlindungan Data Pribadi (PDP) di kantor Badan Siber Sandi Negara, Jakarta Selatan, Senin (27/5).

Kedua, Ruby menjelaskan ada upaya yang dilakukan peretas untuk menyerang sistem informasi penghitungan (Situng). Peretas berusaha untuk mengubah angka hasil perhitungan dalam Situng.

Akan tetapi serangan ini tidak berhasil karena  situng KPU sendiri memiliki sistem jaringan tertutup yang tidak tersambung ke internet.  Data yang dimasukkan ke dalam Situng dimasukkan dan dihitung secara manual berdasarkan hasil pemindaian surat C1. 
"Adanya percobaan-percobaan perubahan-perubahan mengakses data situng untuk dapat mengubah, tapi tidak ada yang berhasil. Karena via offline hitungnya," jelasnya.

Ruby mengatakan serangan siber ke Situng sesungguhnya sia-sia. Pasalnya Situng hanya merupakan informasi yang tidak dijadikan acuan untuk hasil Pemilu 2019 yang sebenarnya.

"Tapi tetap hasil yang asli itu tetap yang manual. Serangan Situng itu sebenarnya tidak ada efeknya. Itu hanya informatif," kata Ruby.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025