BEI Suspensi Saham EKAD, TMPO, dan PACK Usai Naik Ratusan Persen dalam Sebulan

  PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham tiga emiten, yakni PT Ekadharma International Tbk (EKAD), PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO), dan PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), mulai perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026. Suspensi dilakukan setelah harga kumulatif ketiga saham tersebut mengalami peningkatan ratusan persen dalam beberapa waktu terakhir. Saham EKAD misalnya mencatat kenaikan harga sebesar 39,74% dalam lima hari perdagangan, sehingga berada di level Rp 422 per saham. Dalam periode satu bulan, saham EKAD bahkan telah melonjak 152,69%. Sementara itu, saham PACK tercatat naik 40,36% dalam lima hari hingga mencapai Rp 466 per saham. Dalam sebulan, saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk tersebut telah menguat 108,04%. Baca Juga: Permintaan Menguat, Cermati Prospek dan Rekomendasi Saham Industri Semen Adapun saham TMPO mencatat kenaikan paling tinggi dalam periode lima hari, yakni sebesar 48,24%, dengan harga berada di level Rp 252 pe...

Singapura,Tak Akan tandatangani Perjanjian Dagang Indonesia Australia

PT.BESTPROFIT - Meski sudah disepakati belum jelas kapan perjanjian dagang bebas antara Indonesia dan Australia akan ditandatangani oleh pemimpin kedua negara dalam waktu dekat.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan akan bertemu dengan Presiden Joko Widodo di sela-sela KTT Asia Timur di Singapura 14-15 November, namun keduanya tidak akan melakukan penandatanganan perjanjian perdagangan bebas tersebut.

Dalam keterangannya kepada media sebelum meninggalkan Australia, PM Scott Morrison mengatakan bahwa sekarang 'terserah kepada pihak Indonesia' kapan mau melakukan penandatangan perjanjian tersebut.

 Lihat juga di youtube :KEGIATAN PT.BESTPROFIT FUTURES

"Australia tidak terburu-buru untuk menandatangani kesepakatan ini. Niat kami adalah melihat bahwa menteri perdagangan kedua negara akan mencapai kesepakatan di akhir tahun, namun kami tidak terburu-buru." kata Morrison hari Senin (12/11/2018).

Masalah yang mengganjal bagi penandatangan adalah kebijakan baru yang diungkapkan oleh PM Scott Morrison beberapa minggu lalu mengenai kemungkinan pemindahan kedutaan Australia di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Dilaporkan minggu lalu bahwa Indonesia ingin
 adanya kepastian bahwa Australia tidak akan melakukan hal tersebut dan jaminan itu dimasukkan ke dalam perjanjian dagang.
Menurut PM Scott Morrison, dalam pembicaraan dengan Presiden Jokowi di Singapura, dia akan menjelaskan posisi Canberra mengenai perubahan kedutaan tersebut.

Namun Morrison mengatakan bahwa dalam soal perjanjian perdagangan bebas, PM Morrison mengatakan Australia tidak berusaha mengkaitkan masalah lain ke dalam perundingan perdagangan bebas.

"Australia selalu melihat masalah ini sesuai dengan kepentingannya. Kami tidak pernah mencampurkan masalah yang tidak berkenaan dengan kebijakan, ketika membicarakan perjanjian seperti ini." kata Morrison lagi seperti dikutip oleh media di Australia.

Saat ini di Gold Coast (Queensland) sedang dilangsungkan pertemuan tahunan Australia Indonesia Business Council (Dewan Bisnis Australia Indonesia) yang dihadiri oleh kalangan pebisnis kedua negara termasuk Kepala BKPM Thomas Lembong dan Ketua Bappenas Bambang Brodjonegoro.
Di konferensi tersebut, Thomas Lembong yang dikutip oleh harian bisnis Australian Finance Review mengatakan bahwa sudah pasti perjanjian perdagangan bebas Australia dan Indonesia tidak akan ditandatangani di Singapura minggu lalu, namun dia yakin bahwa pada akhirnya kesepakatan akan ditandatangani.

Namun dalam pertemuan itu, beberapa pembicara lain menyampaikan kekhawatiran bahwa proses pengesahan di parlemen yang akan lebih menyulitkan dibandingkan penandatanganan oleh pejabat eksekutif kedua negara. sumber:detik.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini