18 Saham Dikeluarkan, Ini Daftar Saham BEI yang Bertahan Di Indeks MSCI

  Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan 18 saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari konstituen indeks. Lalu, saham apa saja yang masih menjadi penghuni indeks MSCI? MSCI resmi mengumumkan hasil index review periode Mei 2026 pada Rabu (13/5). Perubahan hasil review MSCI ini akan berlaku efektif mulai 1 Juni 2026 setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026. Dalam rebalancing terbaru tersebut, MSCI mengeluarkan sejumlah saham dari MSCI Global Standard Indexes maupun MSCI Small Cap Indexes. Meski demikian, masih banyak saham Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tetap bertahan sebagai konstituen indeks MSCI. Keberadaan saham dalam indeks MSCI biasanya menjadi perhatian investor karena berpotensi memengaruhi aliran dana asing, khususnya dari fund manager global yang menggunakan MSCI sebagai acuan investasi. Berikut sejumlah saham BEI yang masih menjadi anggota MSCI Global Standard Indexes setelah review Mei 2026: Sektor Perbankan - PT Bank Central Asi...

Singapura,Tak Akan tandatangani Perjanjian Dagang Indonesia Australia

PT.BESTPROFIT - Meski sudah disepakati belum jelas kapan perjanjian dagang bebas antara Indonesia dan Australia akan ditandatangani oleh pemimpin kedua negara dalam waktu dekat.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan akan bertemu dengan Presiden Joko Widodo di sela-sela KTT Asia Timur di Singapura 14-15 November, namun keduanya tidak akan melakukan penandatanganan perjanjian perdagangan bebas tersebut.

Dalam keterangannya kepada media sebelum meninggalkan Australia, PM Scott Morrison mengatakan bahwa sekarang 'terserah kepada pihak Indonesia' kapan mau melakukan penandatangan perjanjian tersebut.

 Lihat juga di youtube :KEGIATAN PT.BESTPROFIT FUTURES

"Australia tidak terburu-buru untuk menandatangani kesepakatan ini. Niat kami adalah melihat bahwa menteri perdagangan kedua negara akan mencapai kesepakatan di akhir tahun, namun kami tidak terburu-buru." kata Morrison hari Senin (12/11/2018).

Masalah yang mengganjal bagi penandatangan adalah kebijakan baru yang diungkapkan oleh PM Scott Morrison beberapa minggu lalu mengenai kemungkinan pemindahan kedutaan Australia di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Dilaporkan minggu lalu bahwa Indonesia ingin
 adanya kepastian bahwa Australia tidak akan melakukan hal tersebut dan jaminan itu dimasukkan ke dalam perjanjian dagang.
Menurut PM Scott Morrison, dalam pembicaraan dengan Presiden Jokowi di Singapura, dia akan menjelaskan posisi Canberra mengenai perubahan kedutaan tersebut.

Namun Morrison mengatakan bahwa dalam soal perjanjian perdagangan bebas, PM Morrison mengatakan Australia tidak berusaha mengkaitkan masalah lain ke dalam perundingan perdagangan bebas.

"Australia selalu melihat masalah ini sesuai dengan kepentingannya. Kami tidak pernah mencampurkan masalah yang tidak berkenaan dengan kebijakan, ketika membicarakan perjanjian seperti ini." kata Morrison lagi seperti dikutip oleh media di Australia.

Saat ini di Gold Coast (Queensland) sedang dilangsungkan pertemuan tahunan Australia Indonesia Business Council (Dewan Bisnis Australia Indonesia) yang dihadiri oleh kalangan pebisnis kedua negara termasuk Kepala BKPM Thomas Lembong dan Ketua Bappenas Bambang Brodjonegoro.
Di konferensi tersebut, Thomas Lembong yang dikutip oleh harian bisnis Australian Finance Review mengatakan bahwa sudah pasti perjanjian perdagangan bebas Australia dan Indonesia tidak akan ditandatangani di Singapura minggu lalu, namun dia yakin bahwa pada akhirnya kesepakatan akan ditandatangani.

Namun dalam pertemuan itu, beberapa pembicara lain menyampaikan kekhawatiran bahwa proses pengesahan di parlemen yang akan lebih menyulitkan dibandingkan penandatanganan oleh pejabat eksekutif kedua negara. sumber:detik.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)