Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Harga Minyak Dunia Melemah Jelang Pertemuan G20

Harga Minyak Dunia Melemah Jelang Pertemuan G20 
 Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria).
 
Jakarta, PT.Bestprofit -- Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Selasa (27/11), waktu Amerika Serikat (AS), dipicu oleh ketidakpastian kondisi perang dagang AS-China dan sinyal kenaikan produksi minyak mentah global.

Namun, pelemahan harga minyak dibatasi oleh ekspektasi kesepakatan pemangkasan produksi oleh eksportir minyak pada pertemuan para anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) awal Desember mendatang.

Dilansir dari Reuters, Rabu (28/11), harga minyak mentah berjangka Brent turun US$0,27 menjadi US$60,21 per barel.



Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,07 menjadi US$51.56 per barel.

Pekan lalu, kedua harga acuan global sempat tertekan ke level terendahnya sejak Oktober 2017, ketika Brent merosot hingga US$58,41 per barel dan WTI US$50,15 per barel.

Kedua harga acuan telah merosot lebih dari 30 persen sejak awal Oktober 2018 akibat berlebihnya pasokan di negara berkembang dan pelemahan di pasar keuangan.



Sementara itu, pelaku pasar tengah mengantisipasi pertemuan pemimpin dari 20 perekonomian terbesar dunia (G20) pada 30 November hingga 1 Desember 2018 di Buenos Aires, Argentina. Salah satu agenda utamanya adalah pembahasan perang dagang AS-China.

Selasa kemarin, Penasehat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow menyatakan Presiden AS Donald Trump terbuka untuk memperoleh kesepakatan dagang dengan China. Namun, AS bersiap untuk mengerek tarif impor kembali jika tidak ada terobosan dalam penyelesaiaan gangguan dagang selama acara makan malam dengan Presiden China Xi Jinping, Sabtu malam nanti.

Gedung Putih melihat acara makan malam tersebut sebagai kesempatan untuk membuka halaman baru terkait perang dagang dengan China. Namun, Kudlow menyatakan sejauh ini Gedung Putih telah dikecewakan oleh respons China terhadap masalah perdagangan.



"Tarif yang berlaku saat ini telah menciderai perekonomian global dan eskalasi lebih lanjut hanya akan menekan proyeksi permintaan minyak lebih jauh," ujar Partner Again Capital Management John Kilduff di New York.

Tiga produsen utama minyak dunia, yakni Rusia, AS, dan Arab Saudi akan menghadiri pertemuan G20. Hal itu juga meningkatkan ekspektasi bahwa kebijakan mengenai minyak akan dibicarakan.

Anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan bertemu pada 6 Desember 2018 mendatang di Wina, Austria. Pertemuan akan membahas kebijakan terkait produksi dengen sejumlah negara non-OPEC, termasuk Rusia.



Awal pekan ini, sumber Reuters menyatakan Arab Saudi mengerek produksi minyak ke level tertinggi pada November dengan mencapai 11,1 juta hingga 11,3 juta barel per hari (bph).

Namun, kerajaan telah mendorong kebijakan untuk memangkas produksi secara bersama-sama. Sumber Reuters menyatakan Arab Saudi tengah membahas proposal pemangkasan produksi sebesar 1,4 juta bph bersama OPEC dan sekutunya.

Di sisi lain, Trump telah menekan Arab Saudi, pemimpin de-facto OPEC, untuk tidak memangkas produksi.



Di AS, produksi minyak mentah AS juga mencetak level tertinggi bulan ini menjadi 11,7 juta bpd. Persediaan minyak AS telah terkerek selama sembilan pekan berturut-turut.

Institut Perminyakan Amerika (API) mencatat persediaan minyak mentah AS naik 3,5 juta barel menjadi 442,2 juta barel pekan lalu. Kenaikan itu lebih tinggi dari proyeksi sejumlah analis yang memperkirakan kenaikan hanya akan berkisar 769 ribu barel.

Jika data pemerintah yang dirilis Rabu (28/11) waktu setempat mengkonfirmasi kenaikan stok tersebut, maka kenaikan pasokan terjadi selama sepuluh pekan berturut-turut.sumber:cnnindonesia.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)