Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Harga Minyak Dunia Melemah Jelang Pertemuan G20

Harga Minyak Dunia Melemah Jelang Pertemuan G20 
 Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria).
 
Jakarta, PT.Bestprofit -- Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Selasa (27/11), waktu Amerika Serikat (AS), dipicu oleh ketidakpastian kondisi perang dagang AS-China dan sinyal kenaikan produksi minyak mentah global.

Namun, pelemahan harga minyak dibatasi oleh ekspektasi kesepakatan pemangkasan produksi oleh eksportir minyak pada pertemuan para anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) awal Desember mendatang.

Dilansir dari Reuters, Rabu (28/11), harga minyak mentah berjangka Brent turun US$0,27 menjadi US$60,21 per barel.



Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,07 menjadi US$51.56 per barel.

Pekan lalu, kedua harga acuan global sempat tertekan ke level terendahnya sejak Oktober 2017, ketika Brent merosot hingga US$58,41 per barel dan WTI US$50,15 per barel.

Kedua harga acuan telah merosot lebih dari 30 persen sejak awal Oktober 2018 akibat berlebihnya pasokan di negara berkembang dan pelemahan di pasar keuangan.



Sementara itu, pelaku pasar tengah mengantisipasi pertemuan pemimpin dari 20 perekonomian terbesar dunia (G20) pada 30 November hingga 1 Desember 2018 di Buenos Aires, Argentina. Salah satu agenda utamanya adalah pembahasan perang dagang AS-China.

Selasa kemarin, Penasehat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow menyatakan Presiden AS Donald Trump terbuka untuk memperoleh kesepakatan dagang dengan China. Namun, AS bersiap untuk mengerek tarif impor kembali jika tidak ada terobosan dalam penyelesaiaan gangguan dagang selama acara makan malam dengan Presiden China Xi Jinping, Sabtu malam nanti.

Gedung Putih melihat acara makan malam tersebut sebagai kesempatan untuk membuka halaman baru terkait perang dagang dengan China. Namun, Kudlow menyatakan sejauh ini Gedung Putih telah dikecewakan oleh respons China terhadap masalah perdagangan.



"Tarif yang berlaku saat ini telah menciderai perekonomian global dan eskalasi lebih lanjut hanya akan menekan proyeksi permintaan minyak lebih jauh," ujar Partner Again Capital Management John Kilduff di New York.

Tiga produsen utama minyak dunia, yakni Rusia, AS, dan Arab Saudi akan menghadiri pertemuan G20. Hal itu juga meningkatkan ekspektasi bahwa kebijakan mengenai minyak akan dibicarakan.

Anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan bertemu pada 6 Desember 2018 mendatang di Wina, Austria. Pertemuan akan membahas kebijakan terkait produksi dengen sejumlah negara non-OPEC, termasuk Rusia.



Awal pekan ini, sumber Reuters menyatakan Arab Saudi mengerek produksi minyak ke level tertinggi pada November dengan mencapai 11,1 juta hingga 11,3 juta barel per hari (bph).

Namun, kerajaan telah mendorong kebijakan untuk memangkas produksi secara bersama-sama. Sumber Reuters menyatakan Arab Saudi tengah membahas proposal pemangkasan produksi sebesar 1,4 juta bph bersama OPEC dan sekutunya.

Di sisi lain, Trump telah menekan Arab Saudi, pemimpin de-facto OPEC, untuk tidak memangkas produksi.



Di AS, produksi minyak mentah AS juga mencetak level tertinggi bulan ini menjadi 11,7 juta bpd. Persediaan minyak AS telah terkerek selama sembilan pekan berturut-turut.

Institut Perminyakan Amerika (API) mencatat persediaan minyak mentah AS naik 3,5 juta barel menjadi 442,2 juta barel pekan lalu. Kenaikan itu lebih tinggi dari proyeksi sejumlah analis yang memperkirakan kenaikan hanya akan berkisar 769 ribu barel.

Jika data pemerintah yang dirilis Rabu (28/11) waktu setempat mengkonfirmasi kenaikan stok tersebut, maka kenaikan pasokan terjadi selama sepuluh pekan berturut-turut.sumber:cnnindonesia.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Kasus TaniHub bayangi iklim investasi start-up di Indonesia

RLCO Resmi IPO di BEI, Saham Langsung ARA Naik 34,52%, Hari Ini (9/12) Beli/Jual?