BRI KKB Expo Perluas Akses Kepemilikan Kendaraan, Berlangsung Serentak di 131 Titik

  Setelah berhasil menggelar BRI KKB Expo secara serentak pada 6–10 Juli 2026 di 131 kantor BRI di seluruh Indonesia, BRI akan kembali menggelar BRI KKB Expo secara serentak pada 10–14 Agustus 2026 di 131 kantor BRI di seluruh Indonesia. Melalui expo ini, masyarakat dapat memilih berbagai kendaraan dari beragam merek sekaligus memanfaatkan berbagai promo spesial. Direktur Consumer Banking BRI Aris Hartanto mengatakan bahwa penyelenggaraan BRI KKB Expo menghadirkan kemudahan bagi masyarakat untuk memperoleh layanan pembiayaan kendaraan dalam satu lokasi. "BRI KKB Expo menjadi salah satu strategi Perseroan untuk memperkuat bisnis konsumer sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan pembiayaan kendaraan. Melalui kegiatan ini, masyarakat dapat memperoleh informasi, berkonsultasi, hingga mengajukan pembiayaan secara lebih mudah dalam satu lokasi," ujar Aris. Aris juga menjelaskan antusiasme masyarakat selama rangkaian kegiatan berlangsung terlihat sangat positif. “Inter...

Saham Apple, Amazon dan Facebook Rontok, Zuckerberg Sebut Dalam Kondisi Perang

PT.Bestprofit - Indeks bursa saham AS rontok pada Senin (19/11/2018) waktu setempat.
Ini disebabkan saham sejumlah raksasa teknologi berguguran.

Selain itu, kekhawatiran terkait tekanan perdagangan global juga menekan pasar saham.
Dikutip dari CNBC, Selasa (20/11/2018), indeks saham Dow Jones Industrial Average ambrol 400 poin, disebabkan merosotnya saham Apple.

Sementara itu, indeks S&P 500 menukik 1,45 persen lantaran saham sektor teknologi tertekan 3,3 persen.
Adapun indeks saham Nasdaq Composite jatuh 2,5 persen, karena saham Amazon melemah 3,9 persen.
Saham Apple menjadi penyebab anjloknya saham sektor teknologi setelah ada laporan yang diwartakan The Wall Street Journal bahwa perusahaan itu memangkas jumlah pesanan iPhone baru yang dirilis tahun ini.
Saham Apple jatuh lebih dari 3,5 persen.
Laporan lain yang dirilis The Wall Street Journal menyebut pula bahwa Facebook Mark Zuckerberg'>CEO Facebook Mark Zuckerberg mengadopsi gaya manajerial yang lebih agresif.
Zuckerberg disebut mengatakan kepada 50 eksekutif topnya bahwa Facebook dalam kondisi perang lantaran menghadapi tekanan dari penegak hukum, investor, dan pengguna.


Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Ketika Saham Apple, Amazon dan Facebook Rontok, Zuckerberg Sebut Dalam Kondisi Perang,




"Ini akan membutuhkan perbaikan di (sektor) teknologi. Saya rasa kita akan melihat pelemahan hingga akhir tahun. Saya pikir saham yang melemah masih akan menghadapi tekanan aksi jual," ujar Greg Luken, CEO Luken Investment Analytics.
Sektor teknologi mencatat kinerja terbaik di indeks S&P 500 pada tahun 2017 lalu dan mencatat kinerja terbaik kedua pada tahun 2018.
Namun, sektor teknologi anjlok lebih dari 10 persen dari level tertingginya dalam setahun terakhir.
Saham-saham teknologi juga anjlok pada Senin setelah Wakil Presiden AS Mike Pence dalam pidatonya pada Minggu (18/11/2018) menyebut tidak akan ada akhir dari penerapan tarif impor terhadap produk dari China senilai 250 miliar dollar AS kecuali ada perubahan dari sisi China.
Pence menyatakan hal itu pada pertemuan APEC di Port Moresby, Papua Nugini.
Pernyataan Pence tersebut menyusul pernyataan Presiden Donald Trump bahwa ia tidak akan menerapkan tarif lanjutan terhadap impor produk-produk dari China.

Manajer strategi di TD Ameritrade Shawn Cruz mengungkapkan, katalis utama bagi pasar saat ini adalah kekhawatiran terkait perdagangan AS-China.
"Ini menjadi pendorong utama dan ini yang terlihat pada (saham-saham sektor) teknologi. Perusahaan-perusahaan ini menjadi yang terdepan dalam diskusi AS-China," sebut Cruz.


Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Ketika Saham Apple, Amazon dan Facebook Rontok, Zuckerberg Sebut Dalam Kondisi Perang,
sumber:aceh.tribunnews.com






Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini