Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Harga Minyak Melanjutkan Penguatan di Tengah Tensi Geopolitik yang Memanas

 

Harga minyak mentah WTI berjangka naik ke sekitar US$ 63,1 per barel pada hari Selasa (3/6). Ini memperpanjang kenaikan untuk sesi kedua berturut-turut di tengah ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung. 

Putaran kedua perundingan perdamaian langsung antara Rusia dan Ukraina pada hari Senin (2/6) gagal menghasilkan kemajuan substansial. Kondisi ini meredam harapan untuk resolusi konflik yang telah berlangsung selama 3 tahun. 

Seperti dikutip Tradingeconomics, Selasa (3/6), perundingan itu terjadi sehari setelah meningkatnya tensi, ketika Ukraina melancarkan serangan pesawat tak berawak ke pangkalan udara Rusia. 

Sementara itu, OPEC+ mempertahankan peningkatan produksi pada bulan Juli pada tingkat yang sama dengan dua bulan sebelumnya. Ini meredakan kekhawatiran akan peningkatan pasokan yang lebih besar yang dapat menekan harga. 

Selain itu, dolar AS yang lebih lemah meningkatkan daya tarik komoditas berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) seperti minyak mentah. 

Dolar AS jatuh di tengah ketegangan perdagangan yang baru, menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menggandakan tarif impor baja dan aluminium, di samping meningkatnya ketidakpastian atas kesepakatan perdagangan AS dan Tiongkok.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Kasus TaniHub bayangi iklim investasi start-up di Indonesia

RLCO Resmi IPO di BEI, Saham Langsung ARA Naik 34,52%, Hari Ini (9/12) Beli/Jual?