Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Rupiah Spot Dibuka Melemah di Level Rp 16.363 terhadap Dolar AS, Kamis (19/6)

 

Nilai tukar rupiah di pasar spot pagi ini melanjutkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Mengutip data Bloomberg, Kamis (19/6/2025), rupiah spot berada di level Rp 16.362 per dolar AS pada pukul 09.13 WIB. 

Rupiah tercatat melemah 0,30% bila dibandingkan harga penutupan kemarin, Rabu (18/6) yang berada di level Rp 16.313.

Kemarin,  rupiah di level Rp 16.312 per dolar AS, juga terkoreksi 0,14% dibandingkan sehari sebelumnya. 

Begitupun dengan rupiah di Jisdor Bank Indonesia (BI) juga ikut turun 0,23% menjadi Rp 16.319 per dolar AS.

Ibrahim Assuaibi, Pengamat Mata Uang menilai, sebagian besar sentimen masih seputar eskalasi perang di Timur Tengah.

Selain itu, pasar masih menanti kesimpulan dari pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Kamis (19/6). 

Pasar terlihat meningkatkan taruhan pada sinyal yang lebih dovish dari hasil keputusan Federal Reserve (The Fed) untuk arah bunga acuan AS pada Juni.

"Apalagi pasca rilis data penjualan ritel dan produksi industri AS yang lebih lemah daripada perkiraan pasar," tutur Ibrahim, Rabu (18/6) seperti ditulis Kontan sebelumnya.

Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures mengatakan, keputusan BI menahan suku bunga acuau menahan pelemahan lebih dalam. 

Lukman memproyeksi, kurs bergerak di Rp 16.200 hingga Rp 16.350 per dolar AS pada Kamis (18/6). Prediksi Ibrahim, dolar AS di Rp 16.310–Rp 16.360.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025