Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Emas Spot Naik Tipis ke US$3.378,9 Kamis (19/6) Pagi, Dipicu Situasi Timur Tengah

 

Harga emas menguat pada perdagangan Kamis (19/6) pagi, didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Namun, penguatan ini dibatasi oleh prospek penurunan suku bunga yang lebih lambat dari Federal Reserve AS.

Melansir Reuters, harga emas spot naik 0,3% ke level US$ 3.378,86 per ons troi pada pukul 00.33 GMT. Sementara emas berjangka AS turun 0,4% ke US$ 3.395,80.

Ketegangan geopolitik meningkat tajam setelah Presiden AS Donald Trump menolak memberikan kepastian apakah AS akan turut serta dalam serangan Israel terhadap situs nuklir dan rudal Iran, yang menyebabkan warga Teheran mulai mengungsi dari kota tersebut akibat gempuran udara yang terus berlangsung.

Di sisi lain, militer AS dilaporkan telah memindahkan sebagian kapal dan pesawat dari pangkalan di Timur Tengah yang dianggap rentan terhadap serangan balasan Iran, menurut dua pejabat AS kepada Reuters.

Sementara itu, Federal Reserve kembali mempertahankan suku bunga acuan, namun tetap memproyeksikan penurunan sebesar 50 basis poin sepanjang tahun ini. Meski begitu, laju pemangkasan diperkirakan akan lebih lambat ke depannya.

Ketua The Fed Jerome Powell memperingatkan bahwa inflasi masih bisa menjadi ancaman yang "signifikan", terutama karena tarif impor AS yang lebih tinggi mulai berdampak pada harga konsumen.

Kontrak berjangka dana federal menunjukkan peningkatan ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan September, dengan probabilitas sekitar 64%.

Data ekonomi terbaru menunjukkan jumlah klaim awal tunjangan pengangguran di AS turun pekan lalu, namun masih di level yang mengindikasikan pelemahan pasar tenaga kerja dan perlambatan aktivitas ekonomi pada Juni.

Indeks dolar AS tercatat menguat terhadap mayoritas mata uang utama lainnya usai keputusan The Fed, yang membuat harga emas dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi investor non-AS.

Untuk logam mulia lainnya: Harga perak stabil di US$ 36,75 per ons troi, Platinum naik 1% menjadi US$ 1.335,93, dan Palladium menguat 0,6% ke US$ 1.054,40 per ons troi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Kasus TaniHub bayangi iklim investasi start-up di Indonesia

RLCO Resmi IPO di BEI, Saham Langsung ARA Naik 34,52%, Hari Ini (9/12) Beli/Jual?