Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Jaga Pasar Modal, BEI Berharap Anggota Bursa Perhatikan Ketentuan Berlaku

 


Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan sanksi tertulis kepada sejumlah anggota bursa (AB). Teranyar, Bursa memberikan sanksi tertulis kepada PT Indo Premier Sekuritas pada 9 November 2022.

Berdasarkan hasil pemeriksaan BEI, perusahaan belum sepenuhnya menerapkan ketentuan Pedoman Penilaian Kelayakan Implementasi Standardisasi Brokerage Office System (BOFIS) Anggota Bursa serta ketentuan pengendalian internal terkait dengan teknologi informasi secara konsisten.

Sanksi serupa sebelumnya juga dilayangkan kepada PT Ajaib Sekuritas Asia dan PT Stockbit Sekuritas Digital pada 26 Oktober 2022.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy menjelaskan, sanksi yang diberikan Bursa disebabkan oleh temuan hasil pemeriksaan dari masing-masing AB. Meski sama-sama terkait dengan BOFIS, tetapi masing-masing memiliki spesifikasi persoalan yang berbeda.

"Item BOFIS banyak. Makanya tidak persis sama. Jadi masalahnya beda-beda dan tidak semuanya dapat dikaitkan dengan layanan kepada investor retail saja. Tetapi layanan AB kepada semua nasabahnya,” kata Irvan kepada wartawan, dikutip Jumat (11/11/2022).

Selanjutnya, Bursa berharap AB dapat memperhatikan ketentuan yang berlaku dan memastikan sudah mematuhi ketentuan-ketentuan tersebut serta memastikan pengendalian internal IT yang memadai secara konsisten.

Dalam proses pemeriksaan yang dilakukan Bursa, Irvan mengaku sudah terdapat komunikasi antara Bursa dengan AB. Sejak saat itu AB mulai melakukan perbaikan kondisi sebagaimana rekomendasi dari Bursa.

Ia mengatakan, berkenaan dengan batas waktu, informasi tersebut sudah disampaikan kepada anggota bursa sesuai dengan temuan hasil pemeriksaan bursa dan akan dievaluasi berkala. Pada dasarnya, ia menuturkan, anggota bursa tersebut sudah melakukan perbaikan atas temuan hasil audit BEI.

"AB pasti mau melakukan yang terbaik untuk para nasabahnya, retail atau institusi, dan tidak ingin ada masalah terkait layanan mereka ke para nasabahnya. Jadi sebenarnya Bursa, AB dan para pemangku kepentingan di pasar modal, termasuk OJK juga saling support dalam menjaga keberlangsungan pasar yang wajar, teratur dan efisien,” ujar dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

Kasus TaniHub bayangi iklim investasi start-up di Indonesia

RLCO Resmi IPO di BEI, Saham Langsung ARA Naik 34,52%, Hari Ini (9/12) Beli/Jual?