Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Lonjakan Kasus Covid-19 India Tekan Harga Minyak Dunia

 

Harga minyak dunia melemah pada akhir perdagangan Kamis (6/5) usai menguat dalam beberapa hari sebelumnya. Pasar khawatir terhadap lonjakan kasus covid-19 di India dan sejumlah negara lain.

Melansir Antara, Jumat (7/7), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juli tergerus 87 sen atau 1,3 persen menjadi US$68,09 per barel. Sedangkan, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk penyerahan Juni merosot 92 sen atau 1,4 persen menjadi US$64,71 per barel.

Pada Rabu (5/5) kedua kontrak acuan sempat mencapai level tertinggi sejak pertengahan Maret, sebelum akhirnya kembali melemah.

India membukukan rekor infeksi dan kematian akibat covid-19 setiap hari. Virus corona telah menyebar di kota dan desa di seluruh negara terpadat kedua di dunia itu.

Pasar khawatir bahwa kondisi tersebut menekan permintaan minyak mentah dunia lantaran India merupakan salah satu konsumen utama.

"Rekor jumlah infeksi baru di India telah menjadi berita utama dan memicu kekhawatiran bahwa permintaan akan pulih lebih lambat," kata Commerzbank.

 

Namun, kejatuhan harga minyak berhasil tertahan oleh sejumlah sentimen, salah satunya pelonggaran pembatasan di Eropa. Hal tersebut seiring dengan program vaksinasi di Benua Biru yang terus berjalan.

"Ini menjaga permintaan bahan bakar tetap kuat dan meningkatkan kepercayaan pasar pada pemulihan," analis Citi mengatakan dalam sebuah catatan.

Selain itu, harga minyak ditopang oleh jatuhnya persediaan minyak mentah AS. Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan stok minyak mentah AS turun lebih besar dari yang diperkirakan pekan lalu karena produksi penyulingan naik dan ekspor melonjak.

Persediaan minyak mentah AS turun 8,0 juta barel dalam sepekan terakhir. Angka ini jauh lebih dalam dibandingkan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yaitu sebesar 2,3 juta barel.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)