Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Janji palsu hampir tengah malam



Best Profit - Sejak Senin pagi, Gedung Putih sudah disibukkan dengan bermacam rapat. Namun, yang mencuri perhatian adalah pembahasan soal Iran.Pembicaraan dimulai ketika Majelis Keamanan Nasional Gedung Putih mengedarkan materi rapat. Penasihat keamanan nasional AS, H.R. McMaster, dan Menteri Keuangan, Steven Mnuchin, lebih banyak mendengarkan paparan dari sejumlah orang-orang yang mengaku 'pakar' dalam urusan menghadapi Iran.

Sore menjelang. Para pewarta meliput di sana dikumpulkan buat jumpa pers soal sikap AS kepada Iran. Namun, mendadak dibatalkan dengan alasan Presiden Donald Trump hendak membahas ulang keputusannya. Jadilah Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, dan beberapa penasihat dipanggil. Pembahasan cukup alot hingga hampir tengah malam.

Dari selentingan beredar, Trump mulanya hendak membiarkan sanksi Iran berada dalam status quo selama tiga bulan. Opsi kedua, dia memperpanjang keringanan sanksi kepada Iran, tetapi menolak kalau negara itu memenuhi syarat dalam melucuti program nuklir, seperti dilansir dari laman ABC News kemarin.

Selesai berunding, akhirnya Gedung Putih menggelar konferensi pers yang ditunggu-tunggu, tetapi malah kacau balau. AS menyatakan bakal meringankan sanksi karena terbukti patuh menghentikan program nuklir, tetapi Iran dianggap 'mencederai semangatnya'. Menurut AS, Iran tetap menjadi ancaman karena berkeras mengembangkan misil balistik dan 'kegiatan mencurigakan' lainnya.

Kalau begini keadaannya, maka Iran terancam bisa-bisa mendapat sanksi dengan alasan selain program nuklir. Padahal, jauh-jauh hari perundingan sudah digelar. Hanya saja nampaknya Trump memang keras kepala dan selalu mencari celah buat menekan Teheran.Dua tahun lalu, Presiden Barrack Obama sudah sepakat meringankan sanksi buat Iran, asalkan patuh dengan menghentikan program nuklir selama satu dekade atau lebih. Imbalannya mereka menuntut penggantian uang jutaan dolar.

AS juga mencari-cari alasan soal 'mencederai semangat' dengan dalih pelanggaran hak asasi di Iran, dan masih menuduh mereka membantu kegiatan teror. Malah, mereka hendak memasukkan Garda Revolusi Iran ke dalam daftar organisasi teroris dunia.Kami berharap menjatuhkan sanksi baru karena program misil balistik dan kapal cepat Iran," kata seorang pejabat AS yang menolak ditulis namanya. 

Sebelum pengumuman sikap AS yang mengecewakan, Iran nampaknya lebih dulu menangkap sinyal buruk. "Kami tidak tahu yang mana yang harus kami pahami dan dengan cara apa," kata Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif,seperti dilansir dari laman Al Jazeera kemarin.Presiden Majelis Nasional Iran-AS, Trita Parsi, mengaku tidak heran dengan sikap Trump. 

Dengan memilih cara itu, berarti Trump mengabaikan perjanjian, tetapi hendak cuci tangan. Mereka membikin efek kejut dan berharap Iran bereaksi lebih dulu dengan melanggar perjanjian. Dengan begitu Iran akan membayar harga dari batalnya kesepakatan, bukan pemerintahan Trump," kata Trita.
 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)