Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Bursa Asia bervariasi jelang rilis PDB China




Bestprofit - HONG KONG. Bursa Asia Asia bergerak bervariasi, Senin pagi. Bursa utama di kawasan Asia bergulir di dua zona, lantaran pelaku pasar mengantisipasi rilis data pertumbuhan ekonomi (PDB) China kuartal kedua 2017. Mengutip CNBC, indeks Kospi naik 0,47% ke posisi 2.425 pada pukul 08.10 waktu Hong Kong. Sementara, indeks S&P/ASX 200 turun 0,35%. Adapun, bursa Jepang tutup, karena perayaan hari nasional. 

Hari ini, China akan merilis data pertumbuhan ekonomi, produksi industri dan penjualan ritel kuartal kedua. Adapun, pada kuartal pertama 2017, China mencatat pertumbuhan ekonomi 6,9%, melebihi proyeksi di level 6,8%. Di sisi mata uang, dollar AS cenderung flat terhadap sebagian besar mata uang dunia, setelah tertekan pada Jumat lalu akibat data inflasi yang melemah. Indeks dollar AS diperdagangkan di level 95,09 pukul 07.55 waktu Hong Kong. 

Trader senioer OANDA, Stephen Innes mengatakan, tantangan inflasi Amerika Serikat diperkirakan akan memainkan peran penting dalam kebijakan pengetatan suku bunga The Fed, dan mempengaruhi arah pasar makro tahun ini. Dengan peluang kenaikan suku bunga yang kurang dari 50% pada Desember ini, dan tanpa dukungan testimoni The Fed pada 26 juli ini, dollar bisa tertekan," kata Innes dalam catatannya seperti dilansir CNBC. 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)