Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Segera IPO, Produsen Permen Jelly Yupi Incar Dana Rp 2,13 Triliun

 

Produsen permen jelly dengan merek Yupi, PT Yupi Indo Jelly Gum akan melantai di Bursa Efek Indonesia dengan skema penawaran umum saham perdana atau Initial Public Offering (IPO).

Berdasarkan prospektusnya, perusahaan yang akan menggunakan kode saham YUPI menawarkan maksimal 854,44 juta saham atau setara dengan 10% dari modal ditempatkan dan disetor pasca IPO. 

Penawaran tersebut terdiri dari 255,33 juta saham baru atau 3% dan 598,11 juta saham milik PT Sweets Indonesia dalam rangka divestasi. Jumlah ini setara dengan 7%. 

Pada masa penawaran awal atau bookbuilding, YUPI memasang harga IPO di rentang Rp 2.100 sampai dengan Rp 2.500. Dus, YUPI akan memperoleh dana maksimal Rp 2,13 triliun. 

Di mana Rp 640,83 miliar berasal dari penjualan saham baru YUPI dan Rp 1,49 triliun merupakan hasil dari penawaran umum aset divestasi yang dilakukan PT Sweets Indonesia.   

Rencana sekitar 77% dana dari hasil penawaran saham baru yang dikeluarkan oleh YUPI akan digunakan untuk keperluan pembiayaan belanja modal. 

Khususnya untuk membangun pabrik baru di Nganjuk, Jawa Timur. Pabrik yang ditargetkan beroperasi pada 2016 ini diproyeksikan membutuhkan dana sekitar Rp 435,50 miliar. 

Kemudian sekitar 23% akan digunakan sebagai modal kerja untuk melakukan ekspansi bisnis baik ke pasar internasional maupun pasar dalam negeri. 

Masa penawaran awal berlangsung pada 6–10 Maret 2025. Sementara, masa penawaran umum diperkirakan akan berlangsung pada 17–19 Maret dan pencatatan saham di BEI pada 21 Maret 2045. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini