Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Cermati Rekomendasi Saham ADHI, Labanya Naik 17,98% Tahun Lalu

 

PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mencatatkan kenaikan laba bersih di tengah penurunan pendapatan sepanjang tahun 2024.

Melansir laporan keuangan, ADHI berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 252,49 miliar di tahun 2024. Raihan itu naik 17,98% secara tahunan alias year on year (yoy) dari Rp 214,01 miliar.

Sepanjang tahun lalu, ADHI mengantongi pendapatan usaha Rp 13,35 triliun atau  merosot 33,48% yoy dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 20,07 triliun.

Corporate Secretary ADHI Rozi Sparta mengatakan, pendapatan usaha (non joint operation/NJO) mengalami penurunan, dikarenakan adanya pergeseran perolehan kontrak dari NJO ke joint operation (JO).

“Sehingga, meskipun pendapatan usaha turun, kontribusi dari laba ventura bersama mampu menopang kinerja bottom line perusahaan,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (5/3).

Segmen bisnis teknik dan konstruksi masih menjadi andalan perusahaan, dengan kontribusi pendapatan sebesar 82% dari total pendapatan usaha konsolidasi. 

“Jika dilihat per proyek, kontribusi terbesar adalah pendapatan usaha dari proyek Jalan Tol Yogyakarta Bawen Paket 1, yakni sebesar 1,7 Triliun pada periode 2024,” ungkapnya.

Sementara berdasarkan jenis usaha, pendapatan ADHI mayoritas berasal dari segmen teknik dan konstruksi yang menyumbang Rp 10,97 triliun. Lalu, segmen manufaktur menyumbang Rp 1,53 triliun, segmen properti dan pelayanan Rp 488,80 miliar, dan segmen investasi dan konsesi Rp 364,55 miliar.

Sementara, berdasarkan jenis pelanggan, PT Jasamarga Jogja Solo menyumbang mayoritas ke pendapatan, yaitu sebesar Rp 2,45 triliun. Lalu, diikuti PT Jasamarga Jogja Bawen yang berkontribusi sebesar Rp 1,70 triliun ke pendapatan ADHI.

Analis Kanaka Hita Solvera Andhika, Cipta Labora menilai, kenaikan kinerja ADHI pada tahun lalu memang didorong oleh adanya kenaikan pada pos bagian laba ventura bersama menjadi Rp 884,67 miliar. Sebelumnya, pos ini hanya terisi Rp 487,67 miliar di tahun 2023.

Dilihat dari neraca laba rugi dan penghasilan, memang terdapat sejumlah catatan yang mengindikasikan penyebab kenaikan laba emiten BUMN Karya ini di tahun 2024.

Selain pos bagian laba ventura bersama, perseroan juga mengantongi Rp 2,36 miliar di pos bagian laba entitas asosiasi di akhir 2024. Pada periode sama tahun sebelumnya, ADHI merugi Rp 4,16 miliar di pos ini.

Lalu, kantong surplus revaluasi tanah pun terisi sebesar Rp 223,36 miliar per Desember 2024. Padahal, kantong ini kosong di periode sama tahun 2023.

Andhika melihat, kinerja ADHI dan emiten konstruksi lainnya bisa dibilang berat di tahun 2025. Sebab, ada pemangkasan anggaran infrastruktur dan potensi penurunan suku bunga yang terbatas tahun ini.

Pergerakan saham ADHI juga masih tersendat. Sejak awal tahun 2025, saham ADHI sudah turun 14,15% year to date (YTD). Menurut Andhika, pergerakan saham ADHI sudah sesuai dengan kinerja keuangannya. 

“Sudah sesuai, karena prospek kinerja ADHI sulit untuk bertumbuh lantaran banyaknya sentimen negatif terhadap sektor konstruksi pada umumnya,” ungkapnya.

Alhasil, Andhika pun merekomendasikan wait and see terlebih dulu untuk saham ADHI lantaran pergerakan harganya yang masih downtrend.

Senior Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas melihat, pertumbuhan laba bersih ADHI di tengah penurunan pendapatan disebabkan oleh kenaikan pada pos Bagian Laba Ventura Bersama sebesar 81% yoy.

“Pos itu secara kontribusi terhadap pendapatan mengalami kenaikan menjadi 6,63% dibandingkan periode sebelumnya di 2,43%,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (5/3).

Prospek kinerja emiten BUMN Karya di tahun 2025, termasuk ADHI, sedikit kurang baik. Pasar juga masih merespon kurang bagus untuk sektor ini setelah adanya pemangkasan anggaran infrastruktur. Sedangkan, sentimen positif bisa saja datang jika pemulihan ekonomi terjadi dan mendorong permintaan jasa konstruksi bisa meningkat. 

“Lalu, bisa juga berasal dari regulasi, efisiensi biaya, dan keberhasilan restrukturisasi utang,” katanya.

Menurut Sukarno, kinerja saham ADHI dalam setahun terakhir, jika berpatokan kepada laba bersih, maka bisa dikategorikan tidak mencerminkan kinerja keuangannya. Namun, jika dilihat dari pendapatan, pergerakan saham ADHI sudah mencerminkan kinerja keuangannya. 

Untungnya, hari ini pelaku pasar merespon positif saham ADHI setelah laba tumbuh. Hari ini (5/3), saham ADHI naik 2,25% dari penutupannya kemarin (4/3).

“Selain itu memang harga sudah turun dalam dan pasar sedang dalam tren positif,” ungkapnya.

Rekomendasi ADHI untuk jangka pendek cenderung wait and see atau netral di emiten BUMN Karya. Namun, investor boleh hold saham ADHI dengan target harga Rp 230 per saham. 

“Hati-hati jika tren harga berlanjut turun dan batasi risiko masing-masing jika breakdown support yang kita anggap kuat,” tandasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025