Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Simak Rekomendasi Saham dan Prospek Emiten Resto di Momen Ramadan & Lebaran 2025

 

Bulan Ramadan kerap menjadi kesempatan mendulang cuan bagi bisnis kuliner, termasuk bagi emiten-emiten restoran di pasar modal. 

Lonjakan konsumsi masyarakat selama bulan puasa dan tradisi berbuka bersama dinilai menjadi pendorong utama peningkatan pendapatan bagi sektor ini.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo  mengatakan momentum Ramadan dan Lebaran memang bisa menjadi momen bagi emiten resto dalam memperbaiki kinerja.

"Hal ini dengan asumsi karena adanya kenaikan daya beli masyarakat yang bisa positif bagi perusahaan," kata Azis kepada Kontan, Rabu (5/3).

Tetapi beberapa emiten resto juga masih terkena dampak aksi boikot sehingga kinerja juga masih berpotensi tertekan. Terlebih saat ini badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang berpotensi menurunkan daya beli bisa memengaruhi juga kinerja dari top line emiten resto.

Selain itu, karena beberapa emiten masih banyak yang baru listing, Azis tidak bisa membandingkan kinerja pada Ramadan dan Lebaran tahun lalu.

"Tetapi kami melihat kinerja perusahaan tidak akan jauh berbeda pada tahun lalu," ujarnya.

Azis menyampaikan bahwa saham emiten resto cenderung kurang likuid dan berada dalam trend bearish. Ini membuat para trader untuk enggan membuka posisi pembelian terlalu banyak di sektor ini.

Head of Investment Specialist PT Maybank Sekuritas Indonesia Fath Aliansyah Budiman menjelaskan untuk emiten restoran memiliki peluang kenaikan dari sisi kinerja namun ekspektasinya tidak bisa terlalu agresif. 

"Pelemahan daya beli masyarakat memiliki potensi mempengaruhi kinerja emiten-emiten tersebut," tambah Fath.

Sejauh ini untuk rekomendasi, saham-saham restoran tidak terlalu likuid sehingga agak susah untuk ditradingkan.

Sebagai informasi, ada sejumlah emiten pemilik gerai atau waralaba F&B yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Mulai dari PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), PT MAP Boga Adiperkasa Tbk (MAPB), PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA), PT Pioneerindo Gourmet International Tbk (PTSP) dan PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY).

Kemudian, ada sejumlah emiten yang tergolong baru melantai di BEI, yakni  PT Champ Resto Indonesia Tbk (ENAK), PT Sari Kreasi Boga Tbk (RAFI), PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) dan PT Bersama Mencapai Puncak Tbk (BAIK).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini