Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Malaysia Pernah Usulkan Jembatan Malaka-Dumai, tapi Ditolak SBY

 

Pemerintah Malaysia selain mengusulkan pembangunan terowongan yang menghubungkan Malaka dengan Sumatera, juga pernah mengusulkan pembangunan jembatan dari Malaka ke Dumai, Riau.

Namun usulan itu ditolak oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ketika berbicara di depan masyarakat Indonesia di Berlin, 5 Maret 2013, ia mengatakan empat tahun lalu, Malaysia mengusulkan pembangunan jembatan yang menghubungkan Dumai ke Semenanjung Malaysia.

“Saya tolak. Saya tahu, kalau jembatan Sumatera-Malaysia yang dibangun, kekayaan Sumatera akan habis tersedot ke Asia. Saya prioritaskan pembangunan jembatan di dalam negeri, yakni menyambungkan lebih dulu Sumatera dan Jawa agar kedua wilayah bisa saling mendukung dan bergerak maju lebih cepat,” katanya seperti dikutip harian Suara Pembaruan. 

SBY saat itu berencana membangun jembatan Selat Sunda yang menghubungkan Jawa dan Sumatera.

Jembatan Selat Malaka ini dirancang dengan panjang 49 km dari  Telok Gong, dekat Masjid Tanah, negara bagian Malaka di Semenanjung Malaysia, ke Pulau Rupat dan dilanjutkan ke Dumai, Riau.

Biaya yang dianggarkan 12,5 milliar dolar AS atau setara Rp 171 triliun. Menurut Ketua Straits of Malacca Partners, Tan Sri Ibrahim Zain, Bank Export-Import Cina bersedia mendanai 85 persen dari total biaya.

Ketua Menteri Malaka Datuk Seri Mohd Ali Rustam mengatakan, Malaka memiliki populasi 800.000 dan 40.000 kendaraan termasuk bus dan truk yang memasuki negara bagian setiap hari. "Kami juga menerima 7,2 juta turis tahun lalu,” katanya seperti dikutip The Star, 19 Agustus 2009. 

“Di Sumatera, yang jembatannya terhubung melalui Dumai, ada 70 juta orang dan 10% orang kaya. Mereka punya uang dan datang ke Malaka untuk wisata kesehatan."

“Mereka sangat ingin datang ke Malaysia dan Thailand untuk liburan mereka,” katanya dalam sambutannya setelah menghadiri seminar yang diselenggarakan oleh pengembang proyek, Straits of Malacca Partners Sdn Bhd.

Gagasan Terowongan Malaka

Penolakan dari pemerintah Indonesia atas gagasan pembangunan Jembatan Selat Malaka melahirkan usulan baru: Terowongan Selat Malaka.

“Proyek ini lebih hemat biaya dan layak dengan biaya sekitar RM15 miliar (Rp 51 triliun) dibandingkan dengan jembatan Dumai-Malaka yang diperkirakan RM44,3 miliar,'' kata dekan Aliansi Riset Konstruksi Universitas Teknologi Malaysia, Prof Dr Muhd Zaimi Abd Majid seperti dikutip The Star, 21 Januari 2014.

Dikenal sebagai Johor-Riau Link, terowongan bawah laut 17,5 km itu akan menghubungkan Pulau Karimum di Riau ke Kukup, Pontian, dekat terminal feri yang ada di kabupaten Pontian, Johor, Malaysia.

UTM dan Pemkab Pelalawan waktu itu sempat menandatangani nota kesepahaman melakukan studi kelayakan proyek.

Lama tak terdengar kelanjutannya, rencana pembangunan terowongan ini disinggung oleh Senator Muhammad Zahid Md Arip dari Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) saat dengar pendapat dengan Wakil Menteri Luar Negeri Malaysia, Kamarudin Jaffar,  Kamis, 21 Oktober 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini