Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Saran Ahli Agar Corona Varian Baru AY.4.2 Dapat Dikendalikan

 

Ahli Biologi Molekuler, Ahmad Rusdan Utomo menyebut keberadaan varian baru Covid-19 bernama AY.4.2 bisa dikendalikan.

Varian AY.4.2 merupakan subvarian dari strain Delta virus corona yang ditemukan pertama kali di Inggris. Varian tersebut merupakan bagian dari garis keturunan varian Delta B.1.167.2 yang saat ini sudah masuk ke beberapa negara Eropa, juga Israel.

Ahmad memastikan bahwa varian AY.4.2 sama seperti varian Delta lainnya, sehingga bukan sesuatu yang baru dan mengagetkan.

Mengenal Varian Baru AY.4.2, Bikin Kasus Covid-19 Naik
LIPI: Corona Delta Plus AY.4.2 Belum Ditemukan di Indonesia
Studi: Booster Pfizer 95,6 Persen Efektif Lawan Covid-19

"Tapi itu tidak mengagetkan selama transmisi belum terkendali, potensi penularan itu tetap akan ada," lanjutnya.

Ada dua hal menarik yang sejauh ini telah dilakukan pemerintah Indonesia terkait pengendalian pandemi Covid-19 yang cukup efektif, yakni penerapan pembatasan yang cukup serius dan program vaksinasi yang terus berjalan.

"Kita lihat mayoritas masyarakat patuh memakai masker di tempat publik, seperti di mall dan sekolah. Itu menunjukkan bahwa sekalipun virusnya canggih, tapi orangnya menjaga prokes dengan ketat virus itu tidak bisa kemana-mana. Tapi virus itu akan berpesta di orang yang belum divaksin dan mereka berkerumun tanpa masker," jelasnya.

Sejak kasus positif Covid-19 di Indonesia mulai turun September lalu, belum ada kegiatan besar yang digelar, seperti Pilkada [Pemilihan Kepala Daerah] maupun mudik yang dianggap menjadi pintu masuk peningkatan kasus pandemi beberapa waktu lalu.

Sebaliknya, pemerintah terus melakukan pembatasan di banyak ruang untuk menghindari pergerakan massa yang besar secara bersamaan. Meskipun, peluang untuk terjadinya gelombang ketiga Covid-19 di Indonesia terbuka akhir tahun ini.

"Untuk itu kita harus hati-hati di Natal dan Tahun Baru nanti. Kita harus prihatin. Kalau bisa kita menahan diri untuk tidak mudik atau liburan bareng sekaligus di waktu-waktu itu," terang Ahmad melalui sambungan telepon.

"Di Natal dan Tahun baru ini kan banyak kerumunan. Jadi tidak peduli variannya apa. Kalau kejadian orang massive keluar bareng-bareng pasti akan berpotensi menimbulkan gelombang baru."

Terlebih, dikatakan Ahmad, seluruh masyarakat dunia berharap setelah ada vaksin kondisi bisa normal dan orang bisa bebas berkerumun tanpa masker. Meskipun hal itu pupus setelah datangnya varian baru Delta.

Menurut Ahmad, ternyata orang yang sudah mendapatkan vaksin masih terdapat virus di rongga napasnya yang bisa ditularkan kepada orang-orang yang belum divaksin dan tidak menerapkan protokol kesehatan ketat, khususnya tidak memakai masker.

"Risiko besarnya ke orang-orang yang belum di vaksin. Maka orang yang divaksin diminta untuk tetap memakai masker. Buat sebagian orang memakai masker itu menyusahkan. Makanya kita ini belum kompak, ada yang belum divaksin dan tidak mau pakai masker."

"Padahal, dari hasil dapat diketahui bahwa efektivitas vaksin yang ada di dunia saat ini itu bagus. Vaksin kita oke untuk menanggulangi varian Delta. Hanya saja, varian itu akan akan menyasar orang yang belum vaksin. Risikonya pasti lebih tinggi," ujar Ahmad.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini