Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Cerita Masyarakat Desa Sulit Dapatkan Pembiayaan dari BSI Gara-Gara Bank Emok

 

- Direktur Utama PT Pemalang Agro Wangi, Raeti mengeluhkan sistem BI checking yang masih menjadi syarat mutlak dalam pengajuan kredit di Bank Syariah Indonesia (BSI). Dia mengira, bank yang menjalankan konsep keuangan syariah sudah tidak lagi mengutamakan BI checking.

"Saya kira kalau bank syariah tidak terlalu menggunakan BI checking, tapi ternyata ini masih jadi syarat mutlak," kata Raeti dalam Webinar Dapatkan Pendanaan USaha Bersama Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Jumat (15/10).

Raeti mengungkapkan, sebagian besar petani binaan PT Pemalang Agro Wangi tinggal di daerah terpencil. Sulitnya akses menuju perbankan atau pembiayaan resmi, membuat mereka pernah berutang kepada 'bank emok' yang ternyata terekam dalam BI checking.

"Rata-rata masyarakat sudah terlilit utang di pedesaan melalui bank emok," kata dia.

Sebagai mitra usaha BSI, Raeti juga menilai jangkauan jaringan bank syariah BUMN ini masih lemah dan belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Dia juga mengeluhkan kualitas pelayanan yang menurutnya masih harus ditingkatkan. Padahal mayoritas masyarakat Indonesia beragama islam. Seharusnya, hal ini menjadi kekuatan bagi BSI sebagai perbankan syariah dibandingkan perbankan konvensional.

"Jangkauan jaringan masih lemah dan belum merata, serta kualitas pelayanan masih harus ditingkatkan," kata dia.

Meski begitu, Raeti menilai keberadaan BSI sebagai perbankan syariah telah menjamin pengelolaan dana atau kerjasama yang dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Mulai dari akad, produk hingga penyaluran.

"Sistem yang digunakan dalam perbankan syariah lebih adil untuk nasabah sehingga akan lebih menentramkan," kata dia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini