Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Laba Bersih New York Times Melonjak 51%

 

PT BESTPROFIT Penerbit surat kabar, New York Times menorehkan kinerja yang menggembirakan di sepanjang kuartal II-2018. Media asal Amerika Serikat ini meraih laba bersih sebesar US$ 23,6 juta, naik 51% secara year on year (yoy) atau 14 sen per saham pada kuartal tersebut. Reuters melaporkan Rabu (8/8), bahwa kenaikan pendapatan bersih itu, salah satunya disumbang dari penambahan pelanggan digital berbayar sebanyak 109.000 pelanggan.

Times kini mempunyai 2,9 juta pelanggan digital dari total 3,8 juta di kuartal ini. Alhasil, pendapatan dari langganan produk digital, mencapai US$ 98,7 juta, naik 19,6% yoy. Times mulai mengenakan biaya berlangganan berita online mulai tahun 2011, hal ini untuk mengimbangi pembaca cetak Times. Berlangganan produk layanan digital, hanya perlu keluarkan biaya US$ 97,76 per tahun, lebih murah dari edisi cetak dan paket lainnya. BEST PROFIT

Pendapatan berlangganan menyumbang hampir dua per tiga dari pendapatan perusahaan, sebuah tren yang kami harap akan berlanjut. Kami percaya bahwa ada landasan yang signifikan untuk memperluas basis ini secara substansial,” kata Chief Executive Officer (CEO) York Times Mark Thompson dalam keterangan resminya. 

Sayangnya, penambahan pelanggan digital tidak diikuti kenaikan pendapatan iklan digital. Di periode yang sama, total pendapatan iklan perusahaan turun 10%, dengan pendapatan iklan digital turun 7,5% menjadi US$ 51 juta. New York Times harus bersaing merebut ceruk iklan dari perusahaan lain, seperti Alphabet Inc, Google dan Facebook Inc. BESTPROFIT

Sementara pendapatan iklan cetak menurun pada kuartal kedua tahun ini sebesar 11,5% menjadi US$ 68 juta. Padahal, iklan digital mengalami peningkatan di kuartal tahun lalu karena pemberitaan terkait Donald Trump. 

Meski demikian, surat kabar berusia 167 tahun ini berharap pendapatan dari produk langganan digital dan iklan, masing-masing bisa tumbuh satu digit. Ini adalah kuartal yang tenang untuk iklan digital, yang sudah kami perkirakan. Tetapi kami tetap yakin bahwa kami akan kembali ke pertumbuhan yang kuat di kuartal ketiga,” kata Thompson.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025