Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Mayoritas indeks acuan AS melempem, ini sebabnya



PT Bestprofit Futures Pekanbaru - NEW YORK. Mayoritas saham yang diperdagangkan di bursa AS tertekan pada akhir transaksi Rabu. Mengutip data CNBC, pada pukul 16.00 waktu New York, indeks S&P 500 turun 3,73 poin atau 0,17% menjadi 2.139,43. Sektor real estate mencatatkan penurunan terdalam di antara tujuh sektor lainnya. Sedangkan sektor finansial menjadi sektor dengan kenaikan terbesar. 

Indeks Nasdaq juga turun 33,13 poin atau 0,63% menjadi 5.250,27. Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average naik 30,06 poin atau 0,17% menjadi 18.199,33. Saham Boeing menghuni posisi top gainers. Sedangkan saham Apple bertengger di jajaran top losers

Dalam setiap sembilan saham yang tertekan, ada lima saham yang naik di New York Stock Exchange. Volume transaksi perdagangan malam tadi melibatkan 866,15 juta saham dan volume transaksi gabungan mencapai 3,681 miliar pada penutupan transaksi. 

Tekanan pada bursa AS masih berlanjut seiring dengan masih berlangsungnya rilis kinerja emiten. Di sisi lain, data ekonomi AS yang solid membantu mendorong sektor finansial. Di sisi lain, penurunan harga minyak juga tetap memberikan sentimen negatif atas market. 

Sekadar informasi, harga kontrak minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 1,56% menjadi US$ 49,18 per barel. Di luar semua retorika yang datang dari OPEC, faktanya adalah pasar minyak menyeimbangkan kondisinya sendiri," jelas Peter Cardillo, chief market economist First Standard Financial. 

Data ekonomi juga menjadi fokus pelaku pasar menjelang pertemuan The Federal Reserve pada pekan depan. Market meramal, The Fed belum akan mengerek suku bunga acuannya pekan depan, melainkan pada pertemuan Desember. 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)