Dulu 9 Kini 27 Klasifikasi Investor Saham Di BEI, Pengawasan Pasar Modal Diperketat

  Setelah pertemuan perdana dengan penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) bertindak cepat membenahi pasar modal Indonesia . Salah satunya dengan memperluas klasifikasi investor dari 9 menjadi 27 sub-tipe demi memenuhi standar transparansi MSCI. Dilansir dari Kompas.com, Otoritas pasar modal Indonesia menyepakati perombakan standar keterbukaan data pemegang saham emiten dengan merinci klasifikasi investor secara jauh lebih detail. Jika sebelumnya kepemilikan saham hanya dikelompokkan ke dalam sembilan tipe investor utama, kini OJK bersama SRO memetakan pemegang saham ke dalam 27 kelompok atau sub-tipe investor. Kebijakan baru tersebut disepakati dalam pertemuan antara otoritas pasar modal Tanah Air dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) selaku pengelola indeks global, yang digelar pada Senin (2/2/2026). Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Der...

Pefindo Sematkan Peringkat Peringkat idAAA untuk Semen Indonesia (SMGR)

 

Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyematkan peringkat idAAA kepada PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dengan proyeksi korporasi stabil.

“Pefindo telah mempertahankan peringkat idAAA untuk SMGR serta obligasi berkelanjutan (shelf-registered) I dan II yang masih beredar," ujar analis Pefindo Yogie Perdana dan Jono Syafei dalam keterangan resmi Pefindo, Rabu (13/8/2025).

Yogie dan Jono menyebut, peringkat ini diberikan kepada perseroan berkat peran pentingnya kepada pemerintah, serta posisi pasar perusahaan yang sangat kuat.

“Fasilitas produksi dan logistik SMGR juga terdiversifikasi dengan baik, serta profil keuangan perseroan konservatif,” tuturnya.

Kendati begitu, peringkat dapat diturunkan jika metrik kredit SMGR melemah akibat utang yang lebih tinggi dari perkiraan tanpa diimbangi prospek pendapatan yang membaik. 

Ataupun, jika perusahaan menghadapi profitabilitas yang lebih lemah dari perkiraan lantaran peningkatan signifikan biaya input atau melemahnya daya tawar harga, maupun posisi bisnis yang melemah karena penurunan pangsa pasar.

"Peringkat juga bisa berada di bawah tekanan jika ada bukti dukungan pemerintah yang melemah, yang tercermin dari divestasi besar-besaran, berkurangnya kendali, atau tidak adanya indikasi dukungan luar biasa dari pemerintah ketika SMGR berada dalam kesulitan keuangan,” tandas Yogie & Jono.

Sebagai informasi, per 30 Juni 2025, pemerintah melalui PT Danantara Asset Management (Persero) atau Danantara memiliki 51,2% saham SMGR, sementara sisanya dimiliki oleh publik.

SMGR adalah produsen semen nasional dengan kapasitas terpasang domestik sebesar 54,2 juta ton per 30 Juni 2025, serta pangsa pasar domestik sebesar 46,5%.

SMGR menawarkan berbagai jenis produk semen, seperti ordinary Portland (OPC), Portland composite (PCC), Portland Pozolan (PPC), special blended (SBC), super masonry (SMC), oil well (OWC), Portland mixed, hingga semen putih. SMGR juga memproduksi kantong semen dan beton siap pakai. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025