Dulu 9 Kini 27 Klasifikasi Investor Saham Di BEI, Pengawasan Pasar Modal Diperketat

  Setelah pertemuan perdana dengan penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) bertindak cepat membenahi pasar modal Indonesia . Salah satunya dengan memperluas klasifikasi investor dari 9 menjadi 27 sub-tipe demi memenuhi standar transparansi MSCI. Dilansir dari Kompas.com, Otoritas pasar modal Indonesia menyepakati perombakan standar keterbukaan data pemegang saham emiten dengan merinci klasifikasi investor secara jauh lebih detail. Jika sebelumnya kepemilikan saham hanya dikelompokkan ke dalam sembilan tipe investor utama, kini OJK bersama SRO memetakan pemegang saham ke dalam 27 kelompok atau sub-tipe investor. Kebijakan baru tersebut disepakati dalam pertemuan antara otoritas pasar modal Tanah Air dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) selaku pengelola indeks global, yang digelar pada Senin (2/2/2026). Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Der...

Laba Bersih Surya Biru Murni Acetylene (SBMA) Naik Double Digit, Ini Penopangnya

 

Perusahaan gas industri, PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA) berhasil mencetak pertumbuhan laba bersih di semester I-2025. Lonjakan itu ditopang oleh kenaikan pendapatan usaha yang kuat di paruh pertama tahun ini. 

Melansir laporan keuangan per Juni 2025, laba bersih SBMA melesat 26,84% secara tahunan menjadi Rp 6,71 miliar di semester I-2025. Di periode yang sama pada 2024, SBMA hanya membukukan laba bersih Rp 5,29 miliar. 

Sedangkan dari sisi pendapatan, SBMA berhasil meraup usaha sebesar Rp 67,17 miliar. Ini meningkat 10,56% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp 60,75 miliar.

Direktur Operasional Surya Biru Murni Acetylene Julianto Setyoadji menjelaskan pendapatan itu terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu pendapatan produk dan pendapatan jasa. Dalam enam bulan pertama tahun ini, pendapatan produk berkontribusi sebesar Rp 65,39 miliar. Sementara pendapatan dari jasa menyumbang pendapatan sebesar Rp 1,77 miliar. 

Julianto menjelaskan pertumbuhan kinerja juga ditopang oleh optimalisasi aset serta market forca yang kuat sehingga para pelanggan dari sektor tambang tetap memilih SBMA. 

“Eksistensi perusahaan yang kuat juga ini memberikan dampak adanya customer seperti PKT dan PT Badak yang telah menambah permintaan varian produk Liquid,” jelasnya dalam keterangan resmi, Rabu (6/8/2025). 

Ada sejumlah nama besar yang menjadi pelanggan SBMA, yakni PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Sanggar Sarana Baja, PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Pama Persada Nusantara dan PT Kaltim Prima Coal.  

Julianto bilang pendapatan jasa sendiri berasal dari jasa pengiriman barang di luar harga produk penjualan barang dagang dan pendapatan servis lainnya. Alhasil, laba bersih SBMA juga ikut bertumbuh. 

Dari sisi neraca, total SBMA mencapai Rp 290,45 miliar per 31 Juni 2025. Dengan total ekuitas sebesar Rp 234,61 miliar per 30 Juni 2025 atau meningkat 2,59% dari posisi Rp 289,97 miliar per 31 Desember 2024. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025