Harga Emas Naik pada Perdagangan Kamis (5/3/2026) Pagi

  Harga emas melanjutkan kenaikan pada perdagangan Kamis (5/3/2026) pagi. Pukul 07.47 WIB, harga emas untuk pengiriman April 2026 di Commodity Exchange ada di US$ 5.182,30 per ons troi, naik 0,93% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 5.134,70 per ons troi. Harga emas kembali naik setelah sempat jeda koreksi. Para pembeli memanfaatkan penurunan harga untuk kembali masuk ke pasar di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik di Timur Tengah . Mengutip Bloomberg , harga emas telah naik sekitar 20% tahun ini, dan mencapai level tertinggi sepanjang masa di atas US$ 5,595 pada akhir Januari. Tingginya permintaan yang didukung oleh ketegangan geopolitik dan kekhawatiran tentang independensi Federal Reserve mendorong kenaikan harga emas. Peter Kinsella , kepala strategi forex global di UBP SA mengatakan, penurunan tajam dan taruhan bullish hedge fund dan manajer investasi seharusnya membatasi penurunan harga emas. "Saya pikir kita pasti akan melihat pemulihan harga emas,...

Laba Bersih Surya Biru Murni Acetylene (SBMA) Naik Double Digit, Ini Penopangnya

 

Perusahaan gas industri, PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA) berhasil mencetak pertumbuhan laba bersih di semester I-2025. Lonjakan itu ditopang oleh kenaikan pendapatan usaha yang kuat di paruh pertama tahun ini. 

Melansir laporan keuangan per Juni 2025, laba bersih SBMA melesat 26,84% secara tahunan menjadi Rp 6,71 miliar di semester I-2025. Di periode yang sama pada 2024, SBMA hanya membukukan laba bersih Rp 5,29 miliar. 

Sedangkan dari sisi pendapatan, SBMA berhasil meraup usaha sebesar Rp 67,17 miliar. Ini meningkat 10,56% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp 60,75 miliar.

Direktur Operasional Surya Biru Murni Acetylene Julianto Setyoadji menjelaskan pendapatan itu terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu pendapatan produk dan pendapatan jasa. Dalam enam bulan pertama tahun ini, pendapatan produk berkontribusi sebesar Rp 65,39 miliar. Sementara pendapatan dari jasa menyumbang pendapatan sebesar Rp 1,77 miliar. 

Julianto menjelaskan pertumbuhan kinerja juga ditopang oleh optimalisasi aset serta market forca yang kuat sehingga para pelanggan dari sektor tambang tetap memilih SBMA. 

“Eksistensi perusahaan yang kuat juga ini memberikan dampak adanya customer seperti PKT dan PT Badak yang telah menambah permintaan varian produk Liquid,” jelasnya dalam keterangan resmi, Rabu (6/8/2025). 

Ada sejumlah nama besar yang menjadi pelanggan SBMA, yakni PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Sanggar Sarana Baja, PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Pama Persada Nusantara dan PT Kaltim Prima Coal.  

Julianto bilang pendapatan jasa sendiri berasal dari jasa pengiriman barang di luar harga produk penjualan barang dagang dan pendapatan servis lainnya. Alhasil, laba bersih SBMA juga ikut bertumbuh. 

Dari sisi neraca, total SBMA mencapai Rp 290,45 miliar per 31 Juni 2025. Dengan total ekuitas sebesar Rp 234,61 miliar per 30 Juni 2025 atau meningkat 2,59% dari posisi Rp 289,97 miliar per 31 Desember 2024. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025