Dulu 9 Kini 27 Klasifikasi Investor Saham Di BEI, Pengawasan Pasar Modal Diperketat

  Setelah pertemuan perdana dengan penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) bertindak cepat membenahi pasar modal Indonesia . Salah satunya dengan memperluas klasifikasi investor dari 9 menjadi 27 sub-tipe demi memenuhi standar transparansi MSCI. Dilansir dari Kompas.com, Otoritas pasar modal Indonesia menyepakati perombakan standar keterbukaan data pemegang saham emiten dengan merinci klasifikasi investor secara jauh lebih detail. Jika sebelumnya kepemilikan saham hanya dikelompokkan ke dalam sembilan tipe investor utama, kini OJK bersama SRO memetakan pemegang saham ke dalam 27 kelompok atau sub-tipe investor. Kebijakan baru tersebut disepakati dalam pertemuan antara otoritas pasar modal Tanah Air dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) selaku pengelola indeks global, yang digelar pada Senin (2/2/2026). Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Der...

Hari Ini (7/8) Pengumuman Rebalancing Indeks MSCI, Analis Rekomendasi Saham Berikut

 

Hasil kocok ulang atau rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan dirilis hari ini, Kamis 7 Agustus 2025. Menjelang pengumuman terbaru, analis rekomendasi investor mencermati saham-saham yang berpotensi masuk indeks MSCI.

Indeks MSCI adalah salah satu rujukan utama bagi manajer investasi global. Saham yang berhasil masuk ke dalam indeks MSCI berpeluang besar mendapatkan suntikan dana dari investor institusional asing. 

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menganalisa saham-saham Prajogo Pangestu berpeluang untuk masuk ke dalam indeks MSCI. Saham tersebut adalah PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Selain PTRO dan CUAN, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga digadang-dagang masuk ke dalam indeks global ini. BREN dinilai punya peluang besar. 

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menyebut BREN menjadi kandidat terkuat karena memiliki kapitalisasi terbesar dan likuiditas yang cukup setelah okasional isu kepemilikan sebelumnya dianggap telah mereda. 

“Jika benar masuk, efeknya terjadi peningkatan likuiditas, arus dana asing masuk melalui MSCI referenced ETF atau fund dan menjadi valuasi premium,” jelas Liza dalam riset tanggal 26 Juli 2025. 

Head of Research Samuel Sekuritas Prasetya Gunadi menyebut untuk bisa masuk dalam indeks MSCI, BREN harus diperdagangkan di harga Rp 9.000 per saham. Pada akhir perdagangan Rabu 5/8), harga saham BREN berada di level Rp 7.225, naik 150 poin atau 2,12% dibandingkan sehari sebelumnya.

Berdasarkan pengamatannya, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) memiliki peluang tertinggi untuk dimasukkan ke MSCI Indonesia Big Cap, karena nilai Free-Float Market Capitalization (FFMC) mencapai US$ 6,6 miliar. 

Indikator lainnya, Average Daily Trading Value (ADTV) dalam 12 bulan terakhir DSSA sebesar US$ 7,2 juta per hari dengan Annual Traded Value Ratio (AVTR) telah melampaui ambang batas 15%. 

Dalam risetnya yang lain, Samuel Sekuritas juga memproyeksikan PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) masuk dalam MSCI Small Cap Index. Ini didukung oleh lonjakan harga sahamnya. 

“Lonjakan saham yang sebagian dipicu oleh akuisisi 5,89% saham perusahaan oleh Grup Djarum. Ini mendorong kapitalisasi pasar free float SSIA,” tulisnya dalam riset tertanggal 22 Juli 2025. 

Dalam catatannya, kapitalisasi pasar free-float SSIA meningkat menjadi US$ 618 juta. Jauh di atas ambang batas US$ 250 juta. Selain itu, rata-rata nilai transaksi harian dalam 12 bulan SSIA di atas persyaratan minimal. 

“Rata-rata nilai transaksi harian SSIA mencapai USD 1,8 juta per hari, melebihi persyaratan minimum sebesar US$ 1 juta per hari, dan rasio 12M ATVR tercatat di atas tolok ukur 10%,” jelas Prasetya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025