Dulu 9 Kini 27 Klasifikasi Investor Saham Di BEI, Pengawasan Pasar Modal Diperketat

  Setelah pertemuan perdana dengan penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO) bertindak cepat membenahi pasar modal Indonesia . Salah satunya dengan memperluas klasifikasi investor dari 9 menjadi 27 sub-tipe demi memenuhi standar transparansi MSCI. Dilansir dari Kompas.com, Otoritas pasar modal Indonesia menyepakati perombakan standar keterbukaan data pemegang saham emiten dengan merinci klasifikasi investor secara jauh lebih detail. Jika sebelumnya kepemilikan saham hanya dikelompokkan ke dalam sembilan tipe investor utama, kini OJK bersama SRO memetakan pemegang saham ke dalam 27 kelompok atau sub-tipe investor. Kebijakan baru tersebut disepakati dalam pertemuan antara otoritas pasar modal Tanah Air dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) selaku pengelola indeks global, yang digelar pada Senin (2/2/2026). Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Der...

Harga Minyak Dunia Rebound dari Titik Terendah 5 Minggu Rabu (6/8) Pagi

 

Harga minyak dunia kembali menguat pada Rabu (6/8/2025), bangkit dari level terendah dalam lima minggu terakhir.

Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif atas India yang terus membeli minyak dari Rusia.

Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik 29 sen atau 0,4% ke level US$ 67,93 per barel pada pukul 08.19 WIB. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 28 sen atau 0,4% ke level US$ 65,44 per barel.

Sehari sebelumnya, kedua kontrak acuan tersebut anjlok lebih dari US$ 1 dan ditutup pada level terendah dalam lima minggu, mencatatkan penurunan selama empat sesi beruntun.

Tekanan datang dari kekhawatiran kelebihan pasokan menyusul rencana OPEC+ menaikkan produksi pada September mendatang.

"Investor sedang menilai apakah India akan mengurangi pembelian minyak Rusia menyusul ancaman Trump. Jika itu terjadi, pasokan global bisa mengetat. Namun, belum ada kepastian apakah India akan menuruti tekanan tersebut," ujar Yuki Takashima, ekonom di Nomura Securities.

Takashima memperkirakan, selama India tetap membeli minyak Rusia, harga WTI kemungkinan akan bertahan di kisaran US$ 60–70 per barel sepanjang Agustus.

Seperti diketahui, Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) pada Minggu lalu menyepakati kenaikan produksi sebesar 547.000 barel per hari untuk bulan September.

Keputusan ini secara efektif mengakhiri periode pemangkasan produksi yang dilakukan OPEC+ sejak pandemi, yang awalnya bertujuan menopang harga minyak global.

Di sisi lain, desakan Amerika Serikat agar India menghentikan impor minyak Rusia dinilai berpotensi mengganggu arus perdagangan global.

Jika India mencari alternatif pasokan dan Rusia mengalihkan ekspor ke pasar lain, maka dinamika pasokan global bisa berubah secara signifikan.

Trump pada Selasa (5/8) kembali melontarkan ancaman tarif terhadap produk-produk asal India, jika negara tersebut tidak menghentikan impor minyak Rusia dalam 24 jam.

Ia juga menyebut penurunan harga energi dapat menekan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengakhiri perang di Ukraina.

Pemerintah India menanggapi ancaman tersebut sebagai hal yang "tidak beralasan" dan menegaskan akan melindungi kepentingan ekonominya. Ketegangan ini memperdalam perselisihan dagang antara kedua negara.

Sementara itu, sentimen positif lainnya datang dari laporan industri yang menunjukkan penurunan stok minyak mentah di Amerika Serikat.

Menurut data dari American Petroleum Institute (API), persediaan minyak mentah AS turun 4,2 juta barel pekan lalu jauh di atas ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan hanya 600.000 barel.

Data resmi dari Badan Informasi Energi AS (EIA) dijadwalkan akan dirilis pada Rabu malam waktu setempat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025