Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Cek Proyeksi Pergerakan Rupiah untuk Hari Ini

 

Nilai tukar rupiah diproyeksi bergerak sideways usai cetak posisi penutupan terkuat dalam setahun terakhir. Selasa (17/9), rupiah spot ditutup di level Rp 15.335 per dolar Amerika Serikat (AS).

Ini membuat rupiah menguat 0,44% dibanding penutupan Jumat (13/9) di Rp 15.402 per dolar AS. Sejalan, rupiah Jisdor BI berada di level Rp 15.338 per dolar AS atau menguat 0,43% dibanding penutupan perdagangan sebelumnya. 

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai penguatan rupiah didukung oleh ekspektasi penurunan suku bunga the Fed yang lebih agresif pada rapat FOMC di minggu ini. 

"Tren pelemahan US Dollar Index sudah terjadi sejak hari Jumat lalu yang dipengaruhi oleh penurunan harga barang impor di AS," kata Josua kepada KONTAN, Selasa (17/8). 

Direktur PT.Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menambahkan, data perdagangan Indonesia yang lebih kuat dari perkiraan menjadi katalis positif bagi penguatan rupiah.

Adapun neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami surplus per Agustus 2024 sekaligus mencatatkan surplus 52 bulan beruntun. Tercatat hasil keuntungan perdagangan barang dan jasa atau trade balance Indonesia dengan negara lain membukukan surplus senilai US$ 2,9 miliar pada Agustus 2024, sejalan dengan meningkatnya ekspor dan impor melambat.  

Secara keseluruhan ekspor Indonesia pada Agustus mencapai US$23,56 miliar, mengalami kenaikan 5,79% dari bulan sebelumnya.

Walaupun sektor migas mencatat penurunan, namun sektor nonmigas mengalami pertumbuhan yang signifikan pada Agustus 2024 tercatat mencapai US$22,36 miliar, meningkat 7,43% dibandingkan dengan Juli 2024.

Kenaikan ini terutama ditopang oleh peningkatan ekspor produk lemak dan minyak nabati, biji logam, serta terak dan abu. 

"Capaian ini di tengah kondisi pasar utama, seperti Jepang dan Amerika Serikat dalam kondisi Indeks Manufaktur (PMI) mengalami kontraksi. Saat yang sama, beberapa komoditas mengalami penurunan harga, terutama di sektor energi, pertanian, dan logam mineral," tulis Ibrahim dalam risetnya, Selasa (17/9).

Untuk perdagangan hari ini (18/9), Ibrahim memprediksi mata uang rupiah fluktuatif namun berpotensi ditutup menguat di rentang Rp. 15.230 - Rp.15.350 per dolar AS. 

Sementara itu Josua memperediksi rupiah bergerak sideways pada perdagangan hari ini (18/9). Ini karena rupiah menanti pengumuman Rapat Dewan Gubernur (RDG).

Menurut Josua, BI akan mempertahankan suku bunga acuan untuk mengantisipasi berlanjutnya ketidakpastian global. Karena itu, Josua menebak pergerakan rupiah berpeluang di kisaran 15.275-15.375 per dolar AS. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini