Reli Harga Emas Bisa Berlanjut, Ahli Ungkap Faktor Pemicunya

  Harga emas kembali terpukul dengan harga turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce dan menguji level support jangka panjang yang kritis pada rata-rata pergerakan 200 hari. Dipantau dari laman Kitco , Jumat (29/5/2026) harga emas terpantau menguat hanya 0,17% ke level US$ 4.502 per troy ounce saat berita ini ditulis. Meski terus bertahan di kisaran US$ 4.500, manajer portofolio di Midas Discovery Fund Tom Winmill menilai reli harga emas bisa berlanjut dan harga yang tinggi akan terus mendukung sektor pertambangan emas. Tom Winmill mengatakan bahwa ia melihat pelemahan harga emas merupakan tren jangka pendek karena pendorong fundamental di balik reli emas tetap bertahan, terutama karena permintaan bank sentral yang kuat dan ekonomi global bergulat dengan meningkatnya risiko struktural. “Saya benar-benar tidak melihat banyak hal yang dapat bersifat bearish untuk emas dalam jangka panjang pada level harga ini,” kata Winmill, dikutip dari ...

Pemerintah Batalkan Kenaikan Tarif Cukai Rokok, Cek Rekomendasi Saham HMSP dan GGRM

 

Pemerintah memutuskan untuk mempertahankan tarif cukai hasil tembakau untuk tahun 2025, sebuah langkah yang memberikan angin segar bagi emiten rokok yang mengalami tekanan daya beli. 

Keputusan ini diambil setelah pembahasan terakhir dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan mempertimbangkan kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025.

Meskipun tarif cukai tetap, pemerintah berencana menyesuaikan harga jual eceran (HJE) produk tembakau pada tahun yang sama.

Riset dari tim Stockbit Sekuritas menunjukkan bahwa keputusan ini akan memberikan dampak positif bagi emiten rokok seperti PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), dan PT Wismilak Inti Makmur (WIIM). 

Stockbit mencatat bahwa tanpa kenaikan cukai, profitabilitas dan pendapatan emiten rokok diperkirakan akan meningkat. Namun, tren peralihan konsumen ke produk rokok yang lebih murah mungkin akan terus berlanjut, mengingat penyesuaian HJE yang direncanakan. 

Saat ini, selisih HJE antara rokok sigaret kretek mesin (SKM) tier 1 dan tier 2 mencapai 64%, yang membuat produk lebih murah tetap menarik bagi konsumen.

Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas Indonesia mengatakan bahwa keputusan ini akan tetap memberikan dampak positif, dengan proyeksi penjualan emiten rokok tumbuh 6% secara year on year (yoy) pada 2025. 

Meskipun demikian, rasio net profit margin (NPM) diperkirakan masih akan berada di bawah level sebelum pandemi, sekitar 4%.

Audi juga mengamati adanya korelasi antara kenaikan cukai hasil tembakau dan penurunan penjualan rokok. Misalnya, pada semester I-2024, HMSP mencatatkan penurunan penjualan sebesar 2,9% yoy menjadi 39,4 miliar batang, disertai penurunan pangsa pasar sebesar 1,5%. 

Meskipun demikian, Audi berpendapat bahwa pembatalan kenaikan cukai hasil tembakau hanya akan memberikan sentimen positif jangka pendek untuk saham emiten rokok. Ia mengingatkan bahwa daya beli masyarakat masih lemah dan peredaran rokok ilegal masih marak. 

Audi merekomendasikan agar investor mempertimbangkan saham rokok dalam jangka pendek, khususnya HMSP, yang menunjukkan tren bullish. 

Ia menyarankan untuk membeli saat harga melewati MA200 dengan target Rp 860 dan support Rp 740. Untuk GGRM, Audi merekomendasikan untuk membeli saat harga melewati neckline, dengan target menuju Rp 17.500 dan support Rp 16.000 per saham.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025

Cermati Rekomendasi Teknikal Mirae Sekuritas Saham ASSA, BDKR & SSIA, Selasa (5/8)