Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Pemerintah Batalkan Kenaikan Tarif Cukai Rokok, Cek Rekomendasi Saham HMSP dan GGRM

 

Pemerintah memutuskan untuk mempertahankan tarif cukai hasil tembakau untuk tahun 2025, sebuah langkah yang memberikan angin segar bagi emiten rokok yang mengalami tekanan daya beli. 

Keputusan ini diambil setelah pembahasan terakhir dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan mempertimbangkan kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025.

Meskipun tarif cukai tetap, pemerintah berencana menyesuaikan harga jual eceran (HJE) produk tembakau pada tahun yang sama.

Riset dari tim Stockbit Sekuritas menunjukkan bahwa keputusan ini akan memberikan dampak positif bagi emiten rokok seperti PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), dan PT Wismilak Inti Makmur (WIIM). 

Stockbit mencatat bahwa tanpa kenaikan cukai, profitabilitas dan pendapatan emiten rokok diperkirakan akan meningkat. Namun, tren peralihan konsumen ke produk rokok yang lebih murah mungkin akan terus berlanjut, mengingat penyesuaian HJE yang direncanakan. 

Saat ini, selisih HJE antara rokok sigaret kretek mesin (SKM) tier 1 dan tier 2 mencapai 64%, yang membuat produk lebih murah tetap menarik bagi konsumen.

Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas Indonesia mengatakan bahwa keputusan ini akan tetap memberikan dampak positif, dengan proyeksi penjualan emiten rokok tumbuh 6% secara year on year (yoy) pada 2025. 

Meskipun demikian, rasio net profit margin (NPM) diperkirakan masih akan berada di bawah level sebelum pandemi, sekitar 4%.

Audi juga mengamati adanya korelasi antara kenaikan cukai hasil tembakau dan penurunan penjualan rokok. Misalnya, pada semester I-2024, HMSP mencatatkan penurunan penjualan sebesar 2,9% yoy menjadi 39,4 miliar batang, disertai penurunan pangsa pasar sebesar 1,5%. 

Meskipun demikian, Audi berpendapat bahwa pembatalan kenaikan cukai hasil tembakau hanya akan memberikan sentimen positif jangka pendek untuk saham emiten rokok. Ia mengingatkan bahwa daya beli masyarakat masih lemah dan peredaran rokok ilegal masih marak. 

Audi merekomendasikan agar investor mempertimbangkan saham rokok dalam jangka pendek, khususnya HMSP, yang menunjukkan tren bullish. 

Ia menyarankan untuk membeli saat harga melewati MA200 dengan target Rp 860 dan support Rp 740. Untuk GGRM, Audi merekomendasikan untuk membeli saat harga melewati neckline, dengan target menuju Rp 17.500 dan support Rp 16.000 per saham.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini