Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

BMKG Ungkap Penyebab Awan Arcus Bak Tsunami di Aceh

 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena awan hitam yang berbentuk seperti gelombang tsunami di kabupaten Aceh Barat dan Nagan Raya merupakan fenomena awan Arcus.

Prakirawan cuaca BMKG Irsal Yuliandri mengatakan fenomena awan Arcus merupakan kejadian langka dan berbahaya.

"Fenomena tersebut relatif jarang terjadi, secara ilmiah awan tersebut dinamakan dengan awan Arcus," ujar Irsal

Senin (10/8).

 

Irsal menuturkan awan Arkus terdiri dari dua bagian, yakni shelf cloud dan roll cloud. Untuk fenomena di Aceh, kata dia merupakan shelf cloud. Shelf cloud biasanya berada pada dasar awan cumulonimbus.

Lebih lanjut, Irsal menyampaikan awan Arcus terbentuk akibat ketidakpastian atmosfer sepanjang atau di depan pertemuan massa udara dingin. Kemudian proses itu mendorong massa udara hangat dan lembab naik hingga membentuk shelf cloud.

"Awan ini terbentuk sebagai hasil dari ketidakstabilan atmosfer," ujarnya.

Di sisi lain, Irsal menyampaikan awar Arcus harus diwaspadai oleh masyarakat. Sebab, dia mengatakan awan itu dapat menimbulkan angin kencang, hujan lebat disertai kilat atau petir, serta hujan es.

"Imbauan bila melihat awan tersebut yakni berlindung dan menjauhi daerah tersebut," ujar Irsal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini