Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

BMKG Ungkap Penyebab Awan Arcus Bak Tsunami di Aceh

 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena awan hitam yang berbentuk seperti gelombang tsunami di kabupaten Aceh Barat dan Nagan Raya merupakan fenomena awan Arcus.

Prakirawan cuaca BMKG Irsal Yuliandri mengatakan fenomena awan Arcus merupakan kejadian langka dan berbahaya.

"Fenomena tersebut relatif jarang terjadi, secara ilmiah awan tersebut dinamakan dengan awan Arcus," ujar Irsal

Senin (10/8).

 

Irsal menuturkan awan Arkus terdiri dari dua bagian, yakni shelf cloud dan roll cloud. Untuk fenomena di Aceh, kata dia merupakan shelf cloud. Shelf cloud biasanya berada pada dasar awan cumulonimbus.

Lebih lanjut, Irsal menyampaikan awan Arcus terbentuk akibat ketidakpastian atmosfer sepanjang atau di depan pertemuan massa udara dingin. Kemudian proses itu mendorong massa udara hangat dan lembab naik hingga membentuk shelf cloud.

"Awan ini terbentuk sebagai hasil dari ketidakstabilan atmosfer," ujarnya.

Di sisi lain, Irsal menyampaikan awar Arcus harus diwaspadai oleh masyarakat. Sebab, dia mengatakan awan itu dapat menimbulkan angin kencang, hujan lebat disertai kilat atau petir, serta hujan es.

"Imbauan bila melihat awan tersebut yakni berlindung dan menjauhi daerah tersebut," ujar Irsal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025