Harga Emas Naik pada Perdagangan Kamis (5/3/2026) Pagi

  Harga emas melanjutkan kenaikan pada perdagangan Kamis (5/3/2026) pagi. Pukul 07.47 WIB, harga emas untuk pengiriman April 2026 di Commodity Exchange ada di US$ 5.182,30 per ons troi, naik 0,93% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 5.134,70 per ons troi. Harga emas kembali naik setelah sempat jeda koreksi. Para pembeli memanfaatkan penurunan harga untuk kembali masuk ke pasar di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik di Timur Tengah . Mengutip Bloomberg , harga emas telah naik sekitar 20% tahun ini, dan mencapai level tertinggi sepanjang masa di atas US$ 5,595 pada akhir Januari. Tingginya permintaan yang didukung oleh ketegangan geopolitik dan kekhawatiran tentang independensi Federal Reserve mendorong kenaikan harga emas. Peter Kinsella , kepala strategi forex global di UBP SA mengatakan, penurunan tajam dan taruhan bullish hedge fund dan manajer investasi seharusnya membatasi penurunan harga emas. "Saya pikir kita pasti akan melihat pemulihan harga emas,...

Ahli Menduga Vaksin Corona Tak Ampuh Bagi Penderita Obesitas

 

Penelitian dari Universitas North Carolina menyatakan hampir 50 persen orang yang mengidap obesitas meninggal dunia akibat Covid-19. Peneliti menduga hal ini membuat vaksin untuk melawan penyakit tersebut kurang efektif.

Riset dari para ahli itu mengingatkan bahwa risiko bagi penderita obesitas lebih besar dari perkiraan sebelumnya berdasarkan sebuah studi komprehensif yang menggunakan data global.

Melansir The Guardian, Kamis (27/8) orang dengan obesitas dengan Body Mass Index (BMI) lebih dari 30, berisiko lebih besar terkena virus corona dalam segala hal. Risiko penderita obesitas berakhir di rumah sakit karena Covid-19 meningkat 113 persen.

Dari jumlah itu, penderita obesitas yang dirawat di ruang perawatan intensif sebesar 74 persen dan memiliki risiko kematian yang lebih tinggi akibat virus sebesar 48 persen.

"Itu angka menakutkan yang cukup tinggi. Jauh lebih tinggi dari yang pernah saya duga," ujar peneliti UNC Barry Popkin.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Obesity Reviews ini merupakan meta-analisis, yang menyatukan data dari banyak studi yang dilakukan di seluruh dunia, termasuk Italia, Prancis, Inggris, AS, dan China. Obesitas sendiri adalah masalah global yang belum ada negara berhasil mengatasinya.

Melansir Medical Express, para peneliti meninjau data imunologi dan biomedis untuk memberikan tata letak terperinci dari mekanisme dan jalur yang menghubungkan obesitas dengan peningkatan risiko Covid-19, serta kemungkinan peningkatan komplikasi yang lebih parah dari virus.

Obesitas sudah dikaitkan dengan banyak faktor risiko yang mendasari Covid-19, termasuk hipertensi, diabetes tipe 2, penyakit jantung, penyakit ginjal, dan hati kronis.

Dalam penelitian itu, perubahan metabolisme yang disebabkan oleh obesitas, seperti resistensi insulin dan peradangan mempersulit individu dengan obesitas untuk melawan beberapa infeksi.

Selama masa infeksi, glukosa serum yang tidak terkontrol, yang umum terjadi pada individu dengan hiperglikemia dapat merusak fungsi sel kekebalan.

"Semua faktor ini dapat mempengaruhi metabolisme sel kekebalan, yang menentukan bagaimana tubuh merespons patogen, seperti virus corona SARS-CoV-2 ," kata rekan penulis Melinda Beck.

Untuk mengatasi hal itu, Popkin meminta pemerintah mengatasi kontributor makanan yang mendasari obesitas dan menerapkan kebijakan kesehatan masyarakat yang kuat yang terbukti mengurangi obesitas pada tingkat populasi.

Negara lain, seperti Chili dan Meksiko diketahui telah mengadopsi kebijakan mulai dari pajak makanan tinggi gula hingga memperkenalkan label peringatan pada makanan kemasan yang tinggi gula, lemak, natrium, serta membatasi pemasaran junk food untuk anak-anak.

"Mengingat ancaman signifikan Covid-19 bagi individu dengan obesitas, kebijakan makanan sehat dapat memainkan peran pendukung dan penting dalam mitigasi mortalitas dan morbiditas Covid-19," katanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025