Harga Saham BBCA Terus Turun, Analis Ungkap Waktu Tepat Beli atau Tunggu di 2026

  Penurunan harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berlanjut hingga Selasa (27/1/2026). Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham BBCA sudah layak dibeli atau sebaiknya masih menunggu. Pada penutupan perdagangan Selasa, saham BBCA turun 1,96% ke level Rp7.500 per saham. Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing dengan net foreign sell mencapai Rp1,79 triliun. Dalam lima hari terakhir, saham BBCA terkoreksi 5,36%, dan melemah 6,54% dalam sebulan. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai pelemahan BBCA lebih dipicu oleh tekanan jual asing dan rotasi dana, bukan karena memburuknya fundamental perusahaan. “Tekanan BBCA saat ini lebih karena faktor aliran dana. Fundamentalnya masih solid,” ujar Ekky kepada Kontan . Ia menyebut pergerakan BBCA ke depan sangat bergantung pada meredanya aksi jual asing. Jika tekanan berkurang dan tidak ada kejutan negatif dari paparan kinerja, saham BBCA berpotensi bergerak konsol...

Ahli Menduga Vaksin Corona Tak Ampuh Bagi Penderita Obesitas

 

Penelitian dari Universitas North Carolina menyatakan hampir 50 persen orang yang mengidap obesitas meninggal dunia akibat Covid-19. Peneliti menduga hal ini membuat vaksin untuk melawan penyakit tersebut kurang efektif.

Riset dari para ahli itu mengingatkan bahwa risiko bagi penderita obesitas lebih besar dari perkiraan sebelumnya berdasarkan sebuah studi komprehensif yang menggunakan data global.

Melansir The Guardian, Kamis (27/8) orang dengan obesitas dengan Body Mass Index (BMI) lebih dari 30, berisiko lebih besar terkena virus corona dalam segala hal. Risiko penderita obesitas berakhir di rumah sakit karena Covid-19 meningkat 113 persen.

Dari jumlah itu, penderita obesitas yang dirawat di ruang perawatan intensif sebesar 74 persen dan memiliki risiko kematian yang lebih tinggi akibat virus sebesar 48 persen.

"Itu angka menakutkan yang cukup tinggi. Jauh lebih tinggi dari yang pernah saya duga," ujar peneliti UNC Barry Popkin.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Obesity Reviews ini merupakan meta-analisis, yang menyatukan data dari banyak studi yang dilakukan di seluruh dunia, termasuk Italia, Prancis, Inggris, AS, dan China. Obesitas sendiri adalah masalah global yang belum ada negara berhasil mengatasinya.

Melansir Medical Express, para peneliti meninjau data imunologi dan biomedis untuk memberikan tata letak terperinci dari mekanisme dan jalur yang menghubungkan obesitas dengan peningkatan risiko Covid-19, serta kemungkinan peningkatan komplikasi yang lebih parah dari virus.

Obesitas sudah dikaitkan dengan banyak faktor risiko yang mendasari Covid-19, termasuk hipertensi, diabetes tipe 2, penyakit jantung, penyakit ginjal, dan hati kronis.

Dalam penelitian itu, perubahan metabolisme yang disebabkan oleh obesitas, seperti resistensi insulin dan peradangan mempersulit individu dengan obesitas untuk melawan beberapa infeksi.

Selama masa infeksi, glukosa serum yang tidak terkontrol, yang umum terjadi pada individu dengan hiperglikemia dapat merusak fungsi sel kekebalan.

"Semua faktor ini dapat mempengaruhi metabolisme sel kekebalan, yang menentukan bagaimana tubuh merespons patogen, seperti virus corona SARS-CoV-2 ," kata rekan penulis Melinda Beck.

Untuk mengatasi hal itu, Popkin meminta pemerintah mengatasi kontributor makanan yang mendasari obesitas dan menerapkan kebijakan kesehatan masyarakat yang kuat yang terbukti mengurangi obesitas pada tingkat populasi.

Negara lain, seperti Chili dan Meksiko diketahui telah mengadopsi kebijakan mulai dari pajak makanan tinggi gula hingga memperkenalkan label peringatan pada makanan kemasan yang tinggi gula, lemak, natrium, serta membatasi pemasaran junk food untuk anak-anak.

"Mengingat ancaman signifikan Covid-19 bagi individu dengan obesitas, kebijakan makanan sehat dapat memainkan peran pendukung dan penting dalam mitigasi mortalitas dan morbiditas Covid-19," katanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bitcoin Menuju US$115.000, Tapi Tangan Tak Terlihat Dealer Bisa Redam Rally

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 16.391 Per Dolar AS pada Hari Ini 6 Agustus 2025