Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT)

  Emiten telekomunikasi, PT Remitra Global International Tbk (MKNT) yang sebelumnya bernama PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk, resmi memasuki babak baru setelah seluruh mata acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) disetujui pemegang saham. RUPSLB yang digelar di Hotel Manhattan, Jakarta, pada 14 September 2026 menyetujui enam mata acara, termasuk penambahan modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD), perubahan nama perseroan, perubahan pengendali, perubahan Anggaran Dasar, serta perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris. Aksi korporasi tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memperbaiki kondisi keuangan sekaligus membangun fondasi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang. Melalui PMTHMETD, perseroan akan melakukan penambahan modal dengan nilai mencapai Rp1,024 triliun. Dana tersebut berasal dari beberapa sumber. Sebagian digunakan untuk mengonversi kewajiban perseroan kepada dua kreditur menjadi saham baru. Kewajiban ...

Harga gas alam disetir permintaan Amerika



Bestprofit - JAKARTA. Harga gas alam tergelincir setelah menorehkan kenaikan signifikan. Penguatan harga yang cukup tinggi memicu adanya koreksi teknikal. Namun, peluang kenaikan tetap terbuka selama tren permintaan di pasar global meningkat, harga gas alam kontrak pengiriman Juli 2017 di New York Mercantile Exchange turun 0,62% ke level US$ 3,040 per mmbtu dibanding sehari sebelumnya, serta bergerak stagnan dalam sepekan terakhir. 

Gas alam terkoreksi setelah menguat hingga 4,2% pada . Sebelumnya, harga gas alam naik didorong rilis Energy Information Administration (EIA) yang menunjukkan stok gas alam Amerika Serikat secara mingguan naik 78 miliar kaki kubik. Angka tersebut lebih rendah dari pekan sebelumnya sebesar 106 miliar kaki kubik, serta di bawah proyeksi 88 miliar kaki kubik. Total stok gas alam menjadi 2,709 triliun kaki kubik atau turun 322 miliar dari setahun lalu. 

Andri Hardianto, Analis PT Asia Tradepoint Futures memaparkan, kondisi cuaca memang menjadi faktor utama penggerak harga gas alam. Memasuki musim panas, permintaan gas alam di Negeri Paman Sam memang berpotensi naik. Tetapi, ramalan cuaca Weather Company menunjukkan suhu udara di sebagian wilayah timur Amerika Serikat (AS) akan cenderung normal pada periode 21-30 Juni. Dengan demikian, permintaan belum akan naik tajam. 

Sedangkan permintaan gas alam di luar AS belum bisa diandalkan. China sebagai salah satu konsumen terbesar masih mencatat perlambatan, terutama di sektor industri dan manufaktur. Dana Moneter Internasional (IMF) memang memiliki outlook positif pada perekonomian China. IMF menaikkan outlook pertumbuhan ekonomi China tahun ini menjadi 6,7% dari sebelumnya 6,6%. Namun, proyeksi ini baru bisa menopang gas alam pada semester kedua. Tinggal kita lihat bagaimana data manufaktur China ke depan," lanjut Andri. 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih bisa panen dividen menjelang akhir Juni 2026.

IHSG Dibuka Rebound Selasa (5/8) Ikuti Bursa Asia, Pasar Taruh Harapan The Fed Rate

Rupiah diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan ini